Makna Al-'Adzim: Allah Maha Agung dan Sikap Mukmin Sejati Menurut Imam Ghazali
Pernahkah Anda merasa sangat kecil ketika menatap hamparan luas langit malam?
Bintang yang bertaburan jumlahnya miliaran, sedangkan kita berdiri di bumi hanya sebesar debu yang tak kasat mata. Pengalaman spiritual sederhana itulah yang membawa kita sedikit memahami hakikat asma Allah: Al-'Adzim (Maha Agung).
Nama agung ini mengingatkan kita bahwa ada Dzat yang keagungan-Nya melampaui batas imajinasi dan kemampuan akal manusia. Namun, mengimani Al-Adzim tentu bukan hanya sekadar ucapan manis di lisan.
Imam Ghazali menjelaskan bahwa ada dua sikap utama yang mencirikan seorang mukmin sejati yang mengimani nama ini.
Mari kita ulas secara mendalam di dalam artikel ini.
Makna Al-'Adzim Menurut Imam Ghazali
Imam Al-Ghazali di dalam kitab agungnya yang berjudul Al-Maqshadul Asna fi Syarhi Ma'ani Asmaillah Al-Husna memberikan penjelasan indah:
هو الذي جاوز حدود العقل حتى لا تتصور الإحاطة بكنهه سبحانه وتعالى
"Al-'Adzim adalah Dia (Allah) yang melampaui segala batasan akal, hingga mustahil bagi makhluk untuk dapat meliputi hakikat Dzat-Nya yang Maha Suci lagi Maha Tinggi."
Keagungan Allah bersifat mutlak karena Dia tidak diwadahi oleh ruang, waktu, ataupun keterbatasan makhluk. Semua yang selain Dia adalah kecil dan bergantung penuh kepada kehendak-Nya.
Sikap Orang yang Beriman kepada Al-'Adzim
Menurut pandangan Imam Al-Ghazali, hamba yang mendalami nama Al-'Adzim akan terbukti dari dua perubahan sikap batiniah berikut ini:
1. Mengagungkan Allah dengan Menyadari Ketiadaan Diri
Seorang mukmin yang mengenal sifat Al-'Adzim akan senantiasa menyadari betapa faqir dan hinanya diri di hadapan Sang Pencipta. Ia sadar tidak memiliki daya apa pun kecuali atas izin Allah.
Bentuk pengakuan fisik dan batin yang paling tinggi diwujudkan saat kita mendirikan shalat. Membungkukkan tubuh ketika ruku' sambil melantunkan dzikir:
"Subhana Rabbiyal 'Adzimi wa bihamdih"
(Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung dan dengan memuji-Nya)
2. Menghormati dan Memuliakan Segala yang Diagungkan Allah
Tanda keimanan berikutnya adalah tidak meremehkan hal-hal suci yang diagungkan oleh syariat. Salah satu misal yang paling dekat adalah sumpah demi nama Allah.
Para ulama salaf terdahulu sangat menghindari mengucapkan sumpah untuk perkara-perkara sepele keduniaan. Imam Syafii meriwayatkan bahwa beliau tidak pernah bersumpah demi Allah selama hidupnya demi menjaga kesucian nama-Nya.
Selain sumpah, perkara besar lain yang harus kita muliakan dengan tindakan nyata adalah keberadaan Al-Qur'an, rindu kepada jannah (surga), takut akan dahsyatnya azab neraka, tipu daya wanita yang juga tidak bole dianggap enteng, hari kiamat dan masih banyak lagi perkara yang Allah agungkan dan tidak boleh kita meremehkan.
Penutup
Setelah merenungi kedalaman makna Al-'Adzim ini, masih pantaskah ada sisa kesombongan di dalam dada kita? Masih tegakah kita mengulur-ulur waktu ibadah dan meremehkan perintah-Nya?
Proses agung menghamba kepada Allah Al-'Adzim harus kita mulai hari ini, dari shalat kita, dari lisan kita, dan dari cara kita memandang dunia.
Semoga Allah menggolongkan kita ke dalam kelompok hamba yang istiqamah dalam mengagungkan kebesaran-Nya. Wallahu a’lam bish-shawabi.