Beranda / Asmaul Husna / Al-Halim, Allah Yang Maha Penyabar: 4 Hikmah tentang Rezeki, Dosa, dan Keberkahan

Al-Halim, Allah Yang Maha Penyabar: 4 Hikmah tentang Rezeki, Dosa, dan Keberkahan

Pernahkah kita bertanya-tanya, mengapa ada orang yang lalai beribadah, bahkan bermaksiat, tetapi rezekinya tampak berlimpah dan urusannya mudah? 

Sebaliknya, orang yang rajin salat, berpuasa, dan bersedekah, justru rezekinya terasa terbatas? 

Pertanyaan seperti itu wajar muncul dalam hati. Namun, Islam telah memberikan jawabannya sejak lebih dari seribu tahun lalu melalui salah satu nama Allah yang indah, yaitu Al-Halim, Dzat Yang Maha Penyabar. 

Ternyata, kelancaran rezeki orang yang bermaksiat bukanlah tanda cinta Allah. Bisa jadi itu adalah bentuk penangguhan dari Allah agar mereka diberi kesempatan bertobat. 

Mari kita pahami bersama empat makna Al-Halim menurut ulama dalam kitab Al-Maqshadul Asna agar cara pandang kita terhadap rezeki menjadi lebih lurus.



Pengertian dan Makna Al-Halim Menurut Ulama 

Al-Halim secara bahasa berarti Maha Penyantun dan Maha Penyabar. Para ulama dalam kitab Al-Maqshadul Asna  menjelaskan bahwa Al-Halim adalah Allah yang tidak menyegerakan siksaan kepada hamba-Nya yang bermaksiat dan tidak menahan pemberian rezeki kepada mereka karena dosa-dosanya. 

Bahkan, Allah tetap memberi rezeki kepada orang yang bermaksiat sebagaimana Allah memberi rezeki kepada orang yang taat. 

Dari sifat Al-Halim ini terdapat empat poin penting yang perlu kita renungkan. 


Allah Tidak Menyegerakan Hukuman bagi Hamba yang Bermaksiat 

Kesabaran Allah terhadap hamba yang berbuat dosa disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Tabrani. Rasulullah saw. bersabda: 

"Malaikat sebelah kiri menahan pena selama enam sa'ah terhadap perbuatan dosa seorang muslim. Jika ia menyesali perbuatannya dan memohon ampunan kepada Allah, maka pena itu dilepaskan. Jika tidak, maka dicatatlah satu dosa." 

Bahkan terhadap Fir’aun yang mengaku sebagai tuhan, Allah tetap mengutus malaikat untuk menasihatinya agar bertobat, meskipun ia memilih untuk ingkar. 

Hikmahnya: Selama kita masih hidup dan masih diberi kesempatan membaca tulisan ini, berarti Allah masih memberi waktu kepada kita untuk bertobat. 


Allah Tidak Menahan Rezeki Seorang Hamba Karena Dosa 

Rezeki telah Allah tetapkan dan tidak ada sesuatu pun yang dapat menghalangi Allah untuk memberikannya kepada seluruh makhluk-Nya. Hal ini berlaku bagi semua makhluk, baik yang taat maupun yang bermaksiat. 

Namun, tidak semua rezeki yang Allah berikan mendapat ridha-Nya. Ketaatan dan rasa syukurlah yang menjadi kunci agar Allah meridhai sehingga rezeki yang kita peroleh menjadi berkah. 

Perbedaan antara mukmin dan orang yang kufur terletak pada rasa syukur yang diwujudkan melalui ketaatan. 

Seseorang boleh saja mendapatkan rezeki yang melimpah, tetapi jika tidak dibalas dengan syukur, rezeki itu tidak akan berkah. Sebaliknya, rezeki yang sedikit tetapi disyukuri akan mendatangkan tambahan nikmat dari Allah. 

Dalam pembahasan Asmaul Husna Ar-Rahman telah jelas bahwa nikmat, termasuk rezeki, diberikan kepada seluruh makhluk. Sementara itu, bertambahnya nikmat hanya diperuntukkan bagi hamba-Nya yang beriman, sebagaimana dijelaskan dalam pembahasan makna Ar-Rahim

Dalam pemahaman akidah Islam Ahlu Sunnah  wal-Jama'ah, bahwa tidak ada sesuatu pun yang memberi pengaruh kecuali dengan izin Allah. Hal ini menjadi pengingat agar kita tidak sombong dan tidak bangga berlebihan atas apa yang kita miliki dan upayakan. 

Kesimpulannya: Dosa bukanlah penghalang turunnya rezeki, tetapi penghalang dikabulkannya doa dan penyebab hilangnya keberkahan. 


Allah Memaafkan Padahal Dia Mampu Menyiksa 

Allah memiliki pintu maaf yang sangat luas, padahal Dia Mahakuasa untuk menyiksa hamba-Nya yang berdosa. Seharusnya hal ini menjadi renungan bagi kita agar tidak menunda-nunda tobat, karena pintu tobat Allah jauh lebih luas daripada murka-Nya. 


Allah Memberi Penangguhan Hukuman agar Hamba-Nya Bertobat 

Allah Swt. berfirman dalam Surah An-Nahl ayat 61: 

وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللّٰهُ النَّا سَ بِظُلْمِهِمْ مَّا تَرَكَ عَلَيْهَا مِنْ دَآ بَّةٍ وَّلٰـكِنْ يُّؤَخِّرُهُمْ اِلٰۤى اَجَلٍ مُّسَمًّى ۚ فَاِ ذَا جَآءَ اَجَلُهُمْ لَا يَسْتَـأْخِرُوْنَ سَا عَةً وَّلَا يَسْتَقْدِمُوْنَ

 "Dan kalau Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan ada yang ditinggalkan-Nya di bumi dari makhluk yang melata sekalipun, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai waktu yang sudah ditentukan. Maka apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun." 

Ayat ini menegaskan bahwa Allah tidak semena-mena membinasakan makhluk-Nya karena dosa mereka dan kelancaran hidup orang zalim bukanlah karena Allah lupa, melainkan karena Allah masih menangguhkan hukuman-Nya. 

Semua makhluk berada dalam kerajaan-Nya (seluruh alam), maka mereka tidak akan bisa lari kemanapun dari hukuman Allah.

Sebagaimana diriwayatkan bahwa suatu hari Nabi Ibrahim as. melihat orang yang bermaksiat, lalu beliau berdoa kepada Allah, "Ya Allah, binasakanlah dia." Maka matilah orang tersebut. Kemudian Nabi Ibrahim kembali melihat orang yang bermaksiat dan berdoa, "Ya Allah, binasakanlah dia." Maka matilah orang tersebut. Hal itu berulang hingga Allah menegur Nabi Ibrahim. 

Allah Swt. berfirman kepada Nabi Ibrahim:

"Berhentilah, wahai Ibrahim. Jika Kami membinasakan setiap hamba yang bermaksiat, niscaya akan binasa semuanya kecuali sedikit orang. Akan tetapi, apabila hamba-Ku bermaksiat, Kami beri penangguhan. Jika dia bertobat, maka Kami terima tobatnya. Jika dia tidak bertobat dan terus berbuat dosa, tetap Kami tunda menghukumnya karena Kami mengetahui bahwa dia tidak dapat keluar dari kerajaan-Ku." 


Keutamaan dan Sikap Orang yang Beriman kepada Al-Halim 

Bagi orang yang benar-benar beriman dan mengenal Allah Al-Halim, para ulama menyebutkan bahwa orang tersebut semestinya memiliki sifat hilim. 


1. Memiliki Sifat Hilim 

Apa itu sifat hilim? 

Sederhananya, Al-Halim adalah nama yang disandangkan kepada Zat yang memiliki sifat hilim, dan Allah berkehendak menganugerahkan sifat hilim kepada hamba-Nya. 

Sebagian ulama berpendapat bahwa hilim adalah meninggalkan pembalasan ketika marah padahal ia punya kuasa dan sangat bisa untuk membalas. 

Jadi, tingkatan hilim berada di atas sabar karena kesabaran orang yang memiliki sifat hilim disertai kuasa untuk menandingi dan menjatuhkan lawannya, tetapi ia tidak melakukannya demi menjaga kemudaratan yang menimpa dirinya dan orang lain. Dengan demikian, ia terhindar dari sikap sewenang-wenang kepada orang lain. 

Dalam hadis riwayat At-Tabrani, Rasulullah saw. bersabda:

"Sesungguhnya Allah mencintai orang yang memiliki sifat hilim." 

Dalam riwayat lain, Imam Bukhari dan Muslim juga menyebutkan bahwa Allah mencintai orang yang memiliki sifat hilim.

Sifat hilim merupakan pemberian Allah sebagai tanda bahwa Dia mencintai hamba-Nya tersebut. 

Imam Tabrani meriwayatkan sebuah hadis bahwa Rasulullah menceritakan ada orang yang rajin berpuasa sunah dan salat tahajud, tetapi ia tidak memiliki sifat hilim. Kemudian ada juga orang yang tidak rajin berpuasa sunah dan tahajud, tetapi ia memiliki sifat hilim sehingga di sisi Allah orang ini memiliki derajat yang sama dengan orang yang ahli puasa dan ahli tahajud tadi. 

Disebutkan pula oleh ulama bahwa sebagian doa Rasulullah adalah sebagai berikut:

 اللَّهُمَّ أَغْنِنِيْ بِالْعِلْمِ وَزَيِّنِّيْ بِالْحِلْمِ وَأَكْرِمْنِيْ بِالتَّقْوَى وَجَمِّلْنِيْ بِالْعَافِيَةِ 

 "Ya Allah, kayakanlah aku dengan ilmu, hiasilah aku dengan sifat hilim, muliakanlah aku dengan takwa, dan elokkanlah aku dengan kesehatan." 

Apa yang dilakukan Rasulullah menjadi contoh bagi kita sebagai isyarat bahwa sifat hilim itu dapat diminta karena sifat ini bukan sifat bawaan manusia, seperti tamak, malas, bosan, dan lain-lain. Hilim bukan fitrah manusia, tetapi anugerah yang dapat kita peroleh dengan memohon kepada Allah. 

Sayidina Ali karamallahu wajhah berkata: 

"Kebaikan itu bukanlah banyaknya harta dan banyaknya anak, tetapi bahwasanya kebaikan itu ketika banyak ilmu dan besar sifat hilim yang ada pada dirinya." 


2. Tidak Sombong kepada Orang Ahli Maksiat 

Sikap tawadu terhadap orang ahli maksiat, menurut ulama, adalah sikap yang dimiliki orang yang beriman kepada Al-Halim. Dia tidak merasa dirinya paling suci dan paling mulia dari orang lain sehingga ujub, takabur, dan sombong tidak melekat pada dirinya. 

Dia memandang orang yang gemar bermaksiat dengan pandangan belas kasih agar Allah memberinya hidayah, dan dia mengajak orang ahli maksiat itu kepada kebaikan tidak dengan cara mencela atau merendahkan. 

Kita tidak pernah mengetahui kehendak Allah itu seperti apa karena bisa jadi orang ahli maksiat yang dipandang rendah justru meninggal dalam keadaan husnul khatimah karena Allah lebih dahulu memberinya hidayah. Sebaliknya, orang yang terlihat rajin beribadah bisa saja Allah hinakan karena membiarkan penyakit dalam hatinya.


Penutup

Kesimpulan: Setelah memahami makna Al-Halim dan hikmah di baliknya, kini jelas bahwa ternyata kelancaran rezeki orang yang bermaksiat bukanlah bukti kasih sayang Allah. Itu adalah bentuk kesabaran Allah, penangguhan hukuman, dan kesempatan untuk bertobat. 

Allah tidak menahan rezeki karena dosa, tetapi dosa dapat menghalangi keberkahan dan dikabulkannya doa. Sebaliknya, rezeki yang sedikit tetapi disertai syukur dan ketaatan akan mendatangkan ketenangan dan keberkahan yang tidak terhingga. 

Orang yang beriman kepada Al-Halim hendaknya menghiasi diri dengan sifat hilim. Tidak mudah marah, tidak sombong, dan tidak merendahkan orang lain yang masih bergelimang dosa. 

Kita tidak pernah tahu akhir hidup seseorang. Bisa jadi orang yang kita pandang rendah justru wafat dalam keadaan husnul khatimah, sementara kita yang merasa banyak beribadah justru lalai menjaga hati. 

Amalan Mengendalikan Amarah dari Ulama Ahli Hikmah

Ketika amarah datang, redam dengan zikir:

يَا حَلِيْمُ

Dibaca 88x dengan hati tenang

InsyaAllah Allah menjaga kita dari bahaya nafsu amarah. Hikmah dari Asma'ul Husna Al-Halim.

Semoga bermanfaat.