Beranda / Dzikir dan Tafakur / Bukti Wujud Allah: Nalar Kosmologi Al-Ghazali dalam Kitab Al-Iqtishad

Bukti Wujud Allah: Nalar Kosmologi Al-Ghazali dalam Kitab Al-Iqtishad

Ada sebuah kepastian batin yang teramat benderang manakala akal manusia bersedia berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia lalu menatap alam raya di sekelilingnya. 

Dinding materi yang tampak kokoh, desir angin yang berhembus, hingga denyut nadi kehidupan yang terus bergerak, sesungguhnya sedang melantunkan sebuah kesaksian sunyi bahwa keberadaan mereka bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri.

Segala sesuatu yang dahulunya tiada lalu mendadak hadir ke panggung kenyataan, mustahil melangkah keluar dari ketiadaan tanpa ada kekuatan yang memanggilnya. 

Di sinilah akal budi manusia ditantang untuk menapaki jalan pembuktian paling mendasar dalam sejarah peradaban: membuktikan keberadaan Dzat Yang Maha Kuasa bukan sekadar dengan dogma taklid yang pasif, melainkan melalui ketajaman logika yang meruntuhkan segala keraguan.

Setelah kita menuntaskan renungan pada muqaddimah sebelumnya, pembahasan kitab legendaris Al-Iqtishad fil I'tiqad (Moderasi dalam Akidah) karya Hujjatul Islam Imam Abu Hamid Al-Ghazali memasuki gerbang utamanya. 

Pada bagian Al-Quthbul Awwal (Poros Pertama: Kajian Dzat Allah), beliau mengawali mahakaryanya dengan Da'wa Pertama: Pembuktian Rasional Wujud Allah Ta'ala melalui anatomi kebaharuan alam semesta.

Struktur Logika Silogisme Al-Ghazali

Imam Al-Ghazali membangun pondasi pembuktian wujud Tuhan dengan silogisme rasional yang sangat ringkas namun mengunci rapat setiap celah bantahan:

"Alam semesta ini adalah baharu (hadits). Setiap yang baharu pasti memiliki sebab (sabab/pencipta). Maka alam semesta ini secara nalar pasti memiliki sebab yang mewujudkannya."

Untuk menguji kebenaran rumus logika di atas, Imam Al-Ghazali membedah alam materi secara terperinci. Yang dimaksud dengan "alam" adalah segala sesuatu selain Allah. 

Seluruh alam raya ini pada hakikatnya hanya tersusun dari dua unsur: Jisim (materi fisik yang memiliki partikel dan ruang) serta A'radh (sifat-sifat aksiden yang menumpang pada materi tersebut, seperti gerak, diam, warna, dan bentuk).

Tabel Klasifikasi Wujud Menurut Imam Al-Ghazali

Klasifikasi Wujud Karakteristik & Hakikat Contoh Nyata Cara Mengetahuinya
Jauhar Fard & Jism Materi yang bertempat di ruang (mutahayyiz), baik partikel tunggal maupun gabungan fisik. Batu, tanah, tubuh manusia, bintang di langit. Penyaksian Kasatmata (Indra)
A'radh (Sifat Aksiden) Keadaan yang tidak bertempat sendiri melainkan wajib menumpang pada materi fisik. Bergerak, diam, rasa lapar, sakit, tinggi badan, warna. Penyaksian Kasatmata & Rasa
Al-Khaliq (Allah Ta'ala) Dzat Maujud yang bukan materi, tidak bertempat di ruang, dan bukan sifat yang menumpang. Dzat Allah Subhanahu wa Ta'ala Yang Maha Esa. Pembuktian Akal (Burhan Aqli)

Dua Kaidah Dasar Pembuktian

Bagi siapa saja yang meragukan kesimpulan adanya Pencipta, Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa keraguan itu hanya mungkin bertumpu pada salah satu dari dua kaidah dasar:

1. Mengapa Setiap yang Baharu Pasti Memiliki Sebab?

Kaidah pertama ini, menurut Imam Al-Ghazali, adalah sebuah aksioma nalar primer (dharuri) atau dalam bahasa sederhananya yaitu pengetahuan yang benar tanpa perlu dibuktikan melalui eksperimen. 

Sesuatu yang dinamakan "baharu" adalah sesuatu yang mulanya tiada, lalu kemudian ada. Sebelum ia terwujud, status keberadaannya berada di posisi seimbang: boleh jadi ada, dan boleh jadi tetap tiada.

Ketiadaan yang terus-menerus mustahil tiba-tiba melompat menjadi ada dengan sendirinya tanpa ada faktor penentu (Al-Murajjih) yang mengunggulkan sisi wujud di atas sisi ketiadaan. 

Akal sehat mana pun akan menolak jika dikatakan sebuah timbangan yang seimbang tiba-tiba condong ke bawah tanpa ada beban yang ditaruh di atasnya. 

Penentu yang memenangkan wujud di atas ketiadaan itulah yang dinamakan sebagai Sebab (Yang Maha Pencipta).

2. Mengapa Alam Semesta Ini Pasti Baharu?

Kaidah kedua inilah yang menjadi medan pertarungan pemikiran antara para ulama kalam dengan sebagian kaum filosof kuno yang mengklaim bahwa materi alam semesta ini bersifat qadim (ada tanpa awal). Imam Al-Ghazali mematahkan anggapan tersebut dengan mengurai sifat inheren materi:

  • Materi fisik (jisim) di alam raya ini tidak akan pernah terlepas dari dua keadaan: bergerak atau diam.
  • Gerak dan diam adalah sesuatu yang nyata-nyata baharu. Gerak selalu bermula setelah diam, dan diam selalu bermula setelah berhentinya gerak. Sifat-sifat ini silih berganti dan mustahil berpindah melayang-layang dari satu materi ke materi lain tanpa wadah.
  • Segala sesuatu yang terikat dan tidak pernah terlepas dari hal-hal yang baharu, maka materi tersebut wajib berstatus baharu pula.

Tiga Kemustahilan Anggapan Alam Abadi Tanpa Awal

Untuk membungkam klaim bahwa perputaran alam semesta ini sudah berlangsung abadi sejak masa tak terhingga tanpa titik mula, Imam Al-Ghazali memaparkan tiga kemustahilan matematis yang sangat memukau di dalam lembaran kitab Al-Iqtishad:

Kemustahilan Pertama: Berakhirnya Sesuatu yang Tak Berakhir

Jika perputaran benda langit diandaikan tidak memiliki permulaan (tanpa batas awal), maka konsekuensinya perputaran yang terjadi sampai hari ini adalah perputaran yang jumlahnya tak terhingga. 

Namun nyatanya, putaran kemarin telah selesai, putaran hari ini telah terlewati, dan putaran besok baru akan tiba.

Mengatakan bahwa rentetan yang tak terhingga telah tuntas terlewati adalah sebuah kontradiksi yang nyata: bagaimana mungkin sesuatu yang tidak punya batas dikatakan telah selesai mencapai batasnya?

Kemustahilan Kedua: Dilema Bilangan Genap dan Ganjil

Setiap himpunan bilangan di alam semesta pasti terikat pada dua kemungkinan: genap atau ganjil. Bilangan genap akan berubah menjadi ganjil jika ditambah satu angka, dan bilangan ganjil akan menjadi genap jika dikurangi satu angka.

Jika putaran alam raya diandaikan berjumlah tak terhingga, apakah jumlah putaran tersebut genap atau ganjil? 

Jika dijawab genap atau ganjil, berarti jumlah itu memiliki kekurangan satu angka, dan sesuatu yang bisa ditambah atau dikurangi satu angka secara mutlak membuktikan bahwa jumlah tersebut terbatas (berhingga), bukan tak terbatas.

Kemustahilan Ketiga: Perbandingan Putaran Planet Saturnus dan Matahari

Di dalam sistem tata surya, planet Saturnus (Zuhal) membutuhkan waktu 30 tahun untuk menyelesaikan satu kali putaran orbit, sedangkan matahari mengitari garis edarnya sekali setiap 1 tahun. 

Artinya, jumlah putaran Saturnus adalah sepertiga puluh (1/30) dari jumlah putaran matahari.

Jika masa lalu alam ini diandaikan tanpa awal (tak terhingga), maka jumlah putaran Saturnus tak terhingga, dan jumlah putaran matahari pun tak terhingga. 

Lantas bagaimana mungkin angka yang merupakan 1/30 (Saturnus) sama-sama tak terhingga dengan angka utuhnya (Matahari)? 

Sesuatu yang lebih sedikit pasti memiliki batas, dan sesuatu yang memiliki batas membuktikan bahwa alam semesta ini memiliki titik mula.

Muara Kepastian: Lahirnya Keimanan pada Yang Maha Pencipta

Melalui runtutan pembuktian yang presisi ini, gugurlah seluruh anggapan bahwa alam materi ini ada dengan sendirinya secara abadi. Alam semesta terbukti berstatus baharu, terikat ruang dan waktu, serta sarat dengan perubahan.

Dan karena setiap yang baharu mustahil terwujud tanpa penentu, maka kepastian akal memaksa setiap jiwa yang jujur untuk bersujud mengakui satu kebenaran mutlak: Pasti ada Yang Maha Pencipta (Ash-Shani') Yang Maha Kuasa, Dzat yang berada di luar hukum ruang dan materi, yang merancang dan menghidupkan seluruh semesta raya ini dari ketiadaan.

Ruang Renung: Membaca Ayat-Ayat Semesta

Mendalami pemikiran Imam Al-Ghazali di dalam Al-Iqtishad fil I'tiqad bukanlah sekadar mengasah kepiawaian berdebat logika di atas kertas. 

Di balik kerumitan istilah jauhar, aradh, dan putaran falak, tersimpan ajakan lembut untuk menyembuhkan rabun batin yang kerap melanda manusia modern.

Betapa sering kita begitu takjub pada kecanggihan teknologi dan keteraturan hukum fisika, namun kita lupa pada Dzat yang meletakkan hukum keteraturan tersebut. 

Kita memandang pergantian siang dan malam sebatas putaran jam dinding biologis, tanpa menyadari bahwa setiap detik yang bergulir adalah tanda kasih sayang Allah Yang Maha Pencipta yang terus memelihara keberadaan kita.

Ketika akal telah tuntas membuktikan bahwa alam ini mustahil ada tanpa Pencipta, jiwa manusia akan menemukan pelabuhan ketenangannya yang sejati. 

Di sanalah letak keindahan tauhid: akal mengantarkan manusia sampai ke ambang pintu pengakuan, agar hati dapat bersimpuh dengan penuh cinta, ketundukan, dan rasa syukur di hadapan keagungan Dzat-Nya.