Beranda / Pengajian / Oleh-Oleh Majelis Ilmu: 4 Amalan Utama yang Membuat Hati Tenang dan Bahagia

Oleh-Oleh Majelis Ilmu: 4 Amalan Utama yang Membuat Hati Tenang dan Bahagia

Setiap Ahad malam, ada satu rutinitas berharga yang selalu saya usahakan untuk tidak terlewatkan, yaitu mengikuti kajian kitab fikih legendaris, Fathul Mu'in

Selain pembahasan bab demi bab yang mendalam, ada satu bagian yang tidak kalah penting untuk disimak, yaitu mukadimah atau nasihat pembuka dari guru kami.

Nasihat ini terasa sangat indah dan mendalam sehingga saya merasa perlu membagikannya di sini sebagai "oleh-oleh" bermanfaat dari majelis ilmu. 

Pelajaran berharga ini bersumber dari Al-Qur'an Surah Al-Anfal ayat 2 hingga 4. Di dalamnya, Allah Subhanahu wa Ta'ala mengisyaratkan empat sifat utama orang beriman yang dapat mengantarkan kita pada kebahagiaan hidup yang sejati.

Mari kita simak bersama apa saja keempat poin tersebut agar dapat kita renungkan dan amalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Ilustrasi Pengajian Pembahasan 4 Amalan Membuat Hati Tenang dan Bahagia



1. Hati yang Bergetar Saat Mendengar Nama Allah

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَاِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَادَتْهُمْ اِيْمَانًا وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَۙ

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal."
(QS. Al-Anfal [8]: 2)

Hati yang "bergetar" di sini bukanlah sesuatu yang terjadi secara berlebihan atau fisik semata. Melainkan sebuah isyarat bahwa hati kita masih hidup dan peka. 

Hati yang hidup akan merasa malu dan takut ketika hendak berbuat maksiat, merasa sedih dan menyesal saat tertinggal ibadah shalat, serta mudah tersentuh hingga meneteskan air mata tatkala merenungkan ayat-ayat suci Al-Qur'an.

Perasaan peka semacam ini tentu tidak datang dengan sendirinya. Allah-lah yang melembutkan hati kita melalui usaha kita mendekatkan diri pada-Nya, salah satunya dengan rajin menghadiri majelis ilmu, majelis zikir, serta mendengarkan petuah dari para ulama. 

Sungguh mengkhawatirkan jika hati kita mulai mengeras hingga tidak merasakan getaran sedikit pun saat asma Allah diserukan.

2. Sabar dan Senantiasa Bertawakal

Sifat kedua erat kaitannya dengan kelanjutan ayat di atas, yaitu: "...dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal." Sebagai hamba, hidup kita tidak akan lepas dari ujian. Mengenai hal ini, Allah berfirman dalam ayat lain:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَۙ

"Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar,"
(QS. Al-Baqarah [2]: 155)

الَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌۙ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ

"(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, 'Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un' (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali)."
(QS. Al-Baqarah [2]: 156)

Inti dari sikap tawakal adalah berserah diri sepenuhnya kepada ketetapan Allah. Kita harus menyadari dengan penuh kesadaran bahwa diri kita dan segala hal yang kita miliki merupakan kepunyaan-Nya, dan pada akhirnya akan kembali kepada-Nya pula.

Namun, penting diingat bahwa sabar bukanlah kepasrahan tanpa usaha, dan tawakal bukanlah sikap diam tanpa ikhtiar. Bertawakal yang benar adalah melakukan ikhtiar yang maksimal terlebih dahulu, kemudian menyerahkan hasilnya kepada kehendak Allah dengan senantiasa berprasangka baik. 

Sikap sabar juga membantu kita mengendalikan emosi agar tidak mengambil keputusan keliru yang merugikan diri sendiri maupun orang lain saat tertimpa kesulitan.

3. Istiqamah Menjaga Ibadah Shalat

Pada ayat selanjutnya, Allah berfirman mengenai sifat yang ketiga:

الَّذِيْنَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَۗ

"(yaitu) orang-orang yang melaksanakan shalat dan yang menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka."
(QS. Al-Anfal [8]: 3)

Shalat merupakan fondasi sekaligus tiang penyangga dari seluruh bangunan ibadah dalam Islam. Shalat yang dikerjakan dengan baik, khusyuk, dan tepat waktu akan menjadi barometer kebaikan bagi seluruh amal perbuatan kita yang lain. 

Sebaliknya, tanpa shalat, amalan-amalan lainnya seakan kehilangan fondasi kokohnya. Rasulullah ﷺ dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim bahkan menegaskan pentingnya ibadah shalat ini sebagai pembeda utama identitas spiritual seorang muslim.

4. Gemar Menginfakkan Harta di Jalan Allah

Poin keempat juga tertulis pada pertengahan Surah Al-Anfal ayat 3 di atas, yaitu: "...dan yang menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka."

Bagian ini kerap menjadi ujian terberat bagi sebagian besar manusia. Harta duniawi adalah salah satu ujian yang paling mudah melalaikan hati dari mengingat sang Pencipta. 

Padahal, Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman dalam Surah Muhammad ayat 38 bahwa kita diajak untuk menyisihkan sebagian kekayaan demi kemaslahatan di jalan Allah.

Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa kebiasaan menahan atau enggan mengeluarkan infak secara terus-menerus lambat laun dapat menyeret suatu kaum atau pribadi ke dalam jurang kehancuran spiritual dan sosial.


Buah Manis dari Menjaga 4 Amalan Utama

Apabila kita berupaya sekuat tenaga untuk menjaga keempat kualitas ibadah di atas, janji Allah sungguh luar biasa indah sebagaimana termaktub dalam ayat berikutnya:

اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ حَقًّاۗ لَهُمْ دَرَجٰتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَّرِزْقٌ كَرِيْمٌۗ

"Mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka akan memperoleh derajat (tinggi) di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia."
(QS. Al-Anfal [8]: 4)

Mendapatkan kedudukan yang mulia di sisi Allah, memperoleh ampunan atas khilaf dan dosa, serta dikaruniai rezeki yang berkah lagi mulia adalah paket lengkap kebahagiaan sejati yang didambakan oleh setiap jiwa yang beriman.

Catatan ini saya tuliskan bukan karena saya telah sempurna dalam mengamalkan semuanya. 

Sungguh, diri ini pun masih sangat jauh dari kata ideal. Namun, tulisan ini saya buat sebagai pengingat tulus bagi diri saya pribadi serta para pembaca sekalian. Semoga menjadi pengingat yang bermanfaat di tengah hiruk-pikuk kesibukan dunia kita hari ini.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa memberikan kita bimbingan, kelembutan hati, serta kekuatan untuk dapat mengamalkan nasihat mulia ini secara istiqamah. Amin ya Rabbal 'Alamin.