Beranda / Aqidah / Memahami Sifat Qidam Allah SWT Menurut Tijan Ad-Darari & Al-Ghazali

Memahami Sifat Qidam Allah SWT Menurut Tijan Ad-Darari & Al-Ghazali

Sebelum poros waktu diciptakan, sebelum dentuman ruang dan masa dibentangkan, dan sebelum miliaran galaksi menghiasi cakrawala, telah wujud Dzat Yang Maha Tunggal tanpa pernah didahului oleh ketiadaan. 

Akal manusia yang terbiasa terbelenggu oleh konsep permulaan sering kali terjebak dalam ilusi kronologis, bahkan sebagian filsuf terdahulu sempat tersesat dengan mengira bahwa alam semesta ini kekal tanpa awal.

Kekeliruan besar tersebut dipatahkan secara telak oleh Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali di dalam mahakarya monumentalnya, Tahafut Al-Falasifah (Kerancuan Para Filsuf). 

Beliau menegaskan bahwa alam materi yang penuh perubahan ini adalah ciptaan baru (*hadits*), dan satu-satunya Dzat Yang Berdiri Sendiri secara mutlak tanpa permulaan hanyalah Allah. Inilah hakikat ketauhidan yang dirangkum secara kokoh dalam sifat Al-Qidam (الْقِدَمُ).

Melanjutkan pembahasan sifat pertama yakni Al-Wujud (Ada), sifat kedua yang wajib diyakini oleh setiap mukallaf adalah meyakini bahwa wujud Dzat Allah SWT tidak memiliki titik awal. 

Keberadaan-Nya adalah kemutlakan yang azali, berdiri di atas puncak keabadian, dan menafikan segala bentuk permulaan yang menjadi ciri khas makhluk ciptaan.

Kajian mendalam ini disarikan secara sistematis dari kitab rujukan utama akidah Ahlussunnah wal Jama'ah (Asy'ariyah), yaitu Tijan Ad-Darari fi Syarhi Risalah al-Bajuri karya ulama besar Al-Azhar, Syaikhul Islam Ibrahim bin Muhammad Al-Bajuri, dipadukan dengan argumentasi logis Imam Al-Ghazali dalam membantah kerancuan berpikir para pengingkar hakikat ketuhanan.

Tabel Ringkasan Sifat Qidam

Sifat Wajib Klasifikasi Sifat Sifat Mustahil (Lawan) Hukum Akal
Al-Qidam (Maha Terdahulu) Sifat Salbiyah (Peniadaan Cacat) Al-Huduts (Baru/Berawal) Wajib 'Aqli (Pasti Azali)
Pembahasan Sifat Qidam Kitab Tijan Ad-Darari Syekh Ibrahim Al-Bajuri

1. Pengertian Sifat Al-Qidam Secara Bahasa dan Istilah

Secara etimologi (bahasa), kata Al-Qidam berakar dari bentukan kata kerja bahasa Arab yang bermakna terdahulu, lampau, atau ada di depan.

Adapun secara terminologi ilmu tauhid, Syekh Ibrahim Al-Bajuri mendefinisikan Al-Qidam sebagai:

"Sifat yang menafikan permulaan bagi wujud Dzat Allah Ta'ala ('Adamul Ibtida' li Wujudihi Ta'ala). Artinya, wujud Allah tidak diawali oleh ketiadaan sama sekali."

Secara sederhana, Allah Subhanahu wa Ta'ala telah ada sebelum segala sesuatu selain-Nya ada. Huruf Alif-Lam (ال) pada lafaz Al-Qidam dalam kaidah tata bahasa Arab berstatus sebagai Alif Lam Lil Haqiqah. Hal ini mengisyaratkan bahwa sifat 'terdahulu' yang murni, sejati, dan tidak terbatas oleh garis waktu hanyalah milik Dzat Allah semata.

2. Mengapa Qidam Dikategorikan sebagai Sifat Salbiyah?

Dalam klasifikasi akidah 50 (Aqa'id Khamsin), sifat Qidam menempati urutan pertama dari kelompok Sifat Salbiyah (yang terdiri dari Qidam, Baqa', Mukhalafatu lil Hawaditsi, Qiyamuhu Binafsihi, dan Wahdaniyah).

Sifat Salbiyah bukanlah sifat yang menambahkan substansi baru pada Dzat Allah, melainkan sifat yang berfungsi untuk menafikan (menolak) segala sifat kekurangan atau sifat ketidaklayakan yang mustahil ada pada Dzat Allah. Sifat Qidam secara mutlak menafikan anggapan bahwa Allah memiliki permulaan, lahir, dibuat, atau didahului oleh ruang kosong.

3. Tiga Pembagian Konsep Qidam: Zamani, Idhofi, dan Haqiqi

Para ulama ushuluddin menggarisbawahi bahwa kata "terdahulu" atau "kuno" dalam perbincangan manusia tidak boleh disamakan dengan Qidam-nya Allah. Syekh Al-Bajuri membagi konsep qidam menjadi tiga tingkatan:

Tingkatan Qidam Pengertian Contoh Nyata Status Hukum Akal
Qidam Zamani Terdahulu karena faktor perputaran waktu dan zaman. Penciptaan langit, bumi, dan bintang lebih dahulu ada daripada manusia. Tetap Baru (Hadits)
Qidam Idhofi Terdahulu karena perbandingan nisbi antara dua objek. Kelahiran seorang ayah lebih dahulu dibandingkan kelahiran anaknya. Tetap Baru (Hadits)
Qidam Haqiqi Terdahulu secara mutlak tanpa permulaan dan tidak terikat dimensi waktu. Wujud Dzat dan Sifat Allah Subhanahu wa Ta'ala. Wajib Azali (Hakiki)

Dari rincian di atas, sangat jelas bahwa Qidam Zamani dan Qidam Idhofi adalah sifat makhluk yang pada dasarnya tetap berstatus hadits (baru) dan didahului oleh ketiadaan. Satu-satunya Dzat yang menyandang Qidam Haqiqi hanyalah Allah SWT.

4. Dalil Naqli (Al-Qur'an) Sifat Qidam

Penegasan bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Awal tanpa ada permulaan termaktub secara agung di dalam Al-Qur'an Surah Al-Hadid ayat 3:

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

"Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu."
(QS. Al-Hadid [57]: 3)

Rasulullah ﷺ menafsirkan langsung makna ayat ini dalam doa beliau yang masyhur sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Muslim:

اللَّهُمَّ أَنْتَ الأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ

"Ya Allah, Engkaulah Al-Awwal (Yang Maha Pertama), maka tidak ada sesuatu pun sebelum-Mu. Dan Engkaulah Al-Akhir (Yang Maha Akhir), maka tidak ada sesuatu pun setelah-Mu..."
(HR. Muslim)

5. Dalil Aqli Logika: Membongkar Kerancuan Daur dan Tasalsul

Akal sehat yang jernih menolak keras anggapan bahwa Allah Pencipta alam semesta memiliki awal mula. Syekh Ibrahim Al-Bajuri dalam kitab Tijan Ad-Darari memaparkan argumentasi logika rasional (dalil aqli) yang mematahkan dua cacat logika filosofis: Ad-Daur (perputaran lingkaran setan) dan At-Tasalsul (mata rantai tanpa ujung).

  1. Kemustahilan Ad-Daur (Putaran Melingkar):
    Daur adalah kondisi di mana keberadaan objek A bergantung pada objek B, sementara keberadaan objek B bergantung pada objek A. Contoh logika: "Si A tidak bisa lahir sebelum si B lahir, namun si B juga tidak bisa lahir sebelum si A lahir." Akal waras pasti menyatakan bahwa kedua-duanya tidak akan pernah ada. Jika Allah dianggap baru dan diciptakan oleh sesuatu yang lain, maka terjadi kemustahilan daur.
  2. Kemustahilan At-Tasalsul (Mata Rantai Tanpa Batas):
    Tasalsul adalah anggapan bahwa pencipta A diciptakan oleh pencipta B, pencipta B diciptakan oleh pencipta C, dan seterusnya mundur ke belakang tanpa pernah ada ujung pemberhentian pertama. Jika rantai penciptaan tidak memiliki pangkal pertama, maka proses penciptaan tidak akan pernah bisa dimulai, dan akibatnya alam semesta tidak akan pernah terwujud.

Karena kita menyaksikan bahwa alam semesta dan diri kita hari ini nyata ada, maka secara mutlak akal mewajibkan adanya Penyebab Pertama (The First Cause) yang tidak diciptakan oleh siapapun dan tidak didahului oleh ketiadaan. Dzat Maha Awal yang Qidam tersebut adalah Allah SWT.

5.1. Bantahan Imam Al-Ghazali: Mengapa Alam Mustahil Qadim?

Imam Al-Ghazali dalam kitab monumental Tahafut Al-Falasifah membedah lebih tajam kerancuan para filsuf yang menyamakan alam dengan Tuhan dalam hal keqadiman. Beliau menolak 3 analogi besar yang dipakai filsuf:

Syubhat Filsuf Bantahan Imam Al-Ghazali
Analogi Matahari-Cahaya
"Allah seperti matahari, alam seperti cahaya. Dua-duanya satu kesatuan dan Qadim bersama."
1. Merendahkan Allah: Matahari wajib bersinar tanpa pilihan. Sedangkan Allah Maha Berkehendak (Fa'alul lima yurid), bisa mencipta atau tidak mencipta. Menganggap penciptaan itu otomatis sama saja menafikan kehendak bebas Tuhan.
2. Syirik Logika: Cahaya adalah bagian dari matahari. Kalau alam bagian dari Dzat Allah, berarti alam adalah Tuhan. Ini kekufuran yang nyata.
3. Menafikan Hikmah: Kalau alam itu Qadim, niscaya tidak akan ada dinamika proses, kelahiran, kematian, dan perubahan.
Syubhat "Allah Menunda Waktu"
"Kalau Allah baru mencipta alam pada waktu tertentu, berarti dulu Allah menunggu waktu? Berarti ada kekurangan pada Dzat-Nya?"
"Yang terikat proses waktu itu makhluk, bukan Allah. Waktu itu sendiri adalah makhluk ciptaan Allah. Allah sejak zaman Azali telah menetapkan: 'Alam ini akan diwujudkan pada titik waktu X'. Maka berlakulah firman Kun Fayakun seketika sesuai kehendak-Nya yang azali, tanpa ada perubahan baru pada Dzat Allah."
Kesimpulan Kerancuan: "Menyamakan Makhluk dengan Khaliq" "Makhluk mustahil Qadim." Ciri khas Qadim adalah tidak berawal dan mandiri, dan itu mutlak hanya milik Allah. Sedangkan ciri makhluk adalah berawal, bergantung, dan membutuhkan pemeliharaan dari Sang Pencipta di setiap detik.

Catatan Penting: Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa adanya proses penciptaan di alam tidak menunjukkan "keterlambatan" pada kekuasaan Allah. Justru adanya proses, sebab-akibat, dan dinamika pertumbuhan adalah bukti nyata dari kesempurnaan hikmah dan kebijaksanaan Allah SWT.

Dengan demikian, barometer final kita adalah firman Allah Ta'ala:

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

"Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: 'Jadilah!' Maka terjadilah ia."
(QS. Yasin [36]: 82)

Kata "Kun" (Jadilah) membuktikan adanya titik permulaan bagi makhluk, dan "Fayakun" (Maka jadilah) membuktikan kemahakuasaan Allah yang tidak terikat oleh hambatan ruang dan waktu.

6. Sifat Mustahil Lawan dari Qidam: Al-Huduts

Lawan dari sifat Al-Qidam adalah Al-Huduts (الْحُدُوثُ), yang artinya baru, diciptakan, atau memiliki permulaan waktu. Menisbatkan sifat huduts kepada Allah adalah perkara yang Mustahil 'Aqli (tidak dapat diterima akal).

Secara kaidah logika, dua sifat yang saling bertentangan secara diametral (naqidhani) tidak mungkin berkumpul pada satu Dzat. Sesuatu yang baru pasti membutuhkan pencipta dan terikat kelemahan. 

Seandainya Allah itu huduts, maka gugurlah status ketuhanan-Nya dan Dia akan setara dengan makhluk yang membutuhkan pertolongan. Mahasuci Allah dari segala sifat kekurangan tersebut.

7. Adab Lisan dan Kehati-hatian Akidah Seorang Muslim

Dalam pengamalan tauhid praktis, Syekh Al-Bajuri mengingatkan pentingnya menjaga tata krama (adab lisan) saat membicarakan wujud Allah agar tidak tergelincir ke dalam pemahaman yang keliru:

  • Hindari Ungkapan "Allah Dulu Belum Ada": Jangan menyusun kalimat yang memberi kesan bahwa Allah mengalami fase ketiadaan lalu kemudian muncul.
  • Hati-hati dengan Istilah "Ada Dengan Sendirinya": Istilah ini rawan disalahpahami seakan ada ruang kosong sebelum Allah. Istilah yang benar dan syar'i adalah Al-Qadim, Al-Awwal, Qa'imun Binafsihi, Wajibul Wujud (Allah ada tanpa permulaan dan tidak membutuhkan siapa pun untuk ada).
  • Gunakan Struktur Bahasa Tauhid yang Lurus: Kalimat akidah yang paling selamat adalah meyakini: "Allah senantiasa Wujud, dan wujud Dzat serta Sifat-Nya tidak bermula dan tidak berakhir."

8. Hikmah dan Buah Spiritual Mengimani Sifat Qidam

Menghayati sifat Qidam melahirkan keteguhan batin yang kokoh dalam menjalani liku-liku kehidupan di dunia:

  1. Memperkokoh Sandaran Tawakal: Jiwa tidak akan goyah karena sadar bahwa tempat ia menggantungkan harapan adalah Dzat Yang Maha Awal dan Kekal, bukan makhluk duniawi yang baru kemarin sore diciptakan dan besok akan binasa.
  2. Ikhlas dan Totalitas dalam Berikhtiar: Meyakini bahwa segala takdir dan ketetapan telah diketahui serta diatur oleh Allah Yang Qidam, sehingga seorang hamba berlapang dada menerima hasil usahanya setelah berikhtiar secara maksimal.
  3. Melenyapkan Kesombongan Diri: Manusia tersadar bahwa dirinya hanyalah debu kecil yang berstatus hadits (baru diadakan). Segala ilmu, harta, dan jabatan yang melekat pada dirinya berawal dari ketiadaan dan akan kembali dipertanggungjawabkan kepada Sang Maha Awal.

Pertanyaan Seputar Sifat Qidam Kitab Tijan Ad-Darari

Setelah kita bahas bersama-sama tentang Al-Qidam, mari kita luruskan beberapa hal yang sering terlintas di benak kita dengan bahasa yang santai dan jernih:

1. Lalu apa bedanya sifat Wujud dengan sifat Qidam?

Sifat Wujud menetapkan kepastian bahwa Allah itu benar-benar Ada tanpa setitik pun keraguan. Sedangkan sifat Qidam melengkapinya: keberadaan Allah itu tidak ada titik awal mulanya dan tidak pernah didahului oleh ketiadaan.

Singkatnya:
• Wujud = Allah itu Ada.
• Qidam = Ada-Nya Allah tidak berawal.

2. Kenapa akal sehat tidak bisa menerima anggapan bahwa alam ini ada dengan sendirinya?

Karena seluruh alam semesta selalu mengalami perubahan: siang berganti malam, musim berganti, sel tubuh menua, dan bintang meledak. Segala yang mengalami perubahan adalah tanda mutlak bahwa ia bersifat baru (*hadits*). 

Sesuatu yang baru mustahil merancang dan memunculkan dirinya sendiri dari ruang hampa. Keteraturan alam semesta adalah bukti nyata adanya Sang Pencipta Yang Maha Awal.

3. Bagaimana jika seseorang sempat terlintas rasa ragu tentang sifat Qidam Allah?

Meyakini sifat Qidam bagi Allah adalah kewajiban mutlak (*fardhu 'ain*). Jika ada keraguan yang terlintas sepintas di kepala lalu segera ditepis dan dicari ilmunya, hal itu adalah tanda fitrah keimanan yang sedang diuji untuk bertambah kokoh. Menyadari keterbatasan akal adalah awal dari ketundukan tauhid yang sejati.

Penutup

Mempelajari sifat Al-Qidam melalui panduan kitab Tijan Ad-Darari karya Syekh Ibrahim Al-Bajuri yang diperkuat oleh ketajaman logika Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali membentengi akidah kita dari racun keraguan dan serangan pemikiran materialisme.

Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah Dzat Yang Maha Awal, Maha Berdiri Sendiri, dan tempat bermuaranya seluruh kepasrahan makhluk di alam semesta.

Semoga Allah melimpahkan keteguhan iman ke dalam sanubari kita, membimbing lisan kita untuk senantiasa bertauhid secara murni, dan mengumpulkan kita bersama para kekasih-Nya di surga kelak. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.