Beranda / Aqidah / Sifat 20 Lengkap: Memahami Hakikat Sifat Wujud Tijan Ad-Darari

Sifat 20 Lengkap: Memahami Hakikat Sifat Wujud Tijan Ad-Darari

Fondasi utama seluruh bangunan keimanan seorang muslim bertumpu pada satu kepastian mutlak yang tidak boleh disentuh oleh setitik pun keraguan. 

Sebelum seorang hamba melangkah mendalami rincian syariat dan menghayati hakikat ibadah, akal budi dan sanubarinya diwajibkan terlebih dahulu menetapkan pondasi paling awal dalam ilmu tauhid: meyakini secara pasti bahwa Allah itu Ada dengan sifat Al-Wujud (الْوُجُودُ).

Mengenal sifat Wujud bukan sekadar menghafal urutan pertama dari dua puluh sifat wajib bagi Allah, melainkan gerbang pembuka kesadaran rasional dan spiritual. 

Melalui pemahaman yang lurus, seorang mukmin diajak menyadari bahwa keberadaan dirinya dan keteraturan semesta bukanlah hasil kebetulan yang hampa, melainkan bukti nyata atas hadirnya Dzat Maha Pencipta Yang Wajib Adanya (Wajib al-Wujud).

Kajian komprehensif ini disarikan secara sistematis dari kitab rujukan utama akidah Ahlussunnah wal Jama'ah (Asy'ariyah), yaitu Tijan Ad-Darari fi Syarhi Risalah al-Bajuri karya ulama besar Al-Azhar, Syaikhul Islam Ibrahim bin Muhammad Al-Bajuri, yang mengupas tuntas hakikat sifat nafsiyah, dalil logika keberadaan Allah, hingga rincian 50 Aqa'idul Iman yang wajib diketahui setiap mukallaf.

Penjelasan Sifat Wujud Kitab Tijan Ad Darari Syekh Ibrahim Al Bajuri

Kewajiban Dasar Setiap Mukallaf dalam Akidah

Syekh Ibrahim Al-Bajuri mengawali kitab Tijan Ad-Darari dengan sebuah kaidah pokok yang menjadi garis pemisah antara keimanan yang sah dan kebodohan akidah:

"Ketahuilah bahwa wajib bagi setiap mukallaf (orang yang telah baligh dan berakal) untuk mengetahui semua hal yang wajib bagi Allah Ta'ala, semua hal yang mustahil bagi-Nya, dan semua hal yang jaiz bagi-Nya. Demikian pula wajib baginya mengetahui apa yang wajib, mustahil, dan jaiz bagi para Rasul 'Alaihimussalam."

Para ulama tauhid memberikan catatan penting mengenai arti kata "Wajib" dalam konteks ketuhanan:

  • Arti Wajib Menurut Akal (Wajib 'Aqli): Maksudnya adalah akal sehat yang waras berkesimpulan bahwa Allah harus ada dan pasti memiliki sifat kesempurnaan, karena mustahil keteraturan alam semesta ini muncul dan berputar dengan sendirinya tanpa ada Pencipta dan Pengatur. Kata "wajib" di sini sama sekali bukan berarti Allah dibebani kewajiban atau diperintah oleh pihak lain, karena kehendak Allah bebas dari intervensi apapun dan tidak ada yang berkuasa atas Dzat-Nya.
  • Arti Wajib Menurut Syariat (Wajib Syar'i): Yaitu syariat Islam menetapkan kewajiban fardhu 'ain atas setiap individu muslim untuk mempelajari dan mengimani perkara akidah ini. Siapa yang mengetahuinya dengan dalil maka ia berpahala dan sah imannya, sedangkan yang mengingkarinya terancam dosa besar dan kekufuran.

Kaidah akidah Ahlussunnah menetapkan bahwa semua hal yang wajib bagi Allah adalah sifat-sifat kesempurnaan mutlak, dan wajib pula bagi-Nya untuk bersih dan suci dari segala bentuk kekurangan (*naqsh*). Kita wajib beriktikad bulat bahwa Allah tidak menyerupai makhluk-Nya dalam hal apapun, sebagaimana firman-Nya:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat."
(QS. Asy-Syura [42]: 11)

Dari sinilah para ulama merangkum sifat-sifat yang wajib diketahui secara terperinci (tafshili) menjadi 20 Sifat Wajib beserta lawannya (20 Sifat Mustahil) dan 1 Sifat Jaiz bagi Allah, serta 4 Sifat Wajib beserta lawannya (4 Sifat Mustahil) dan 1 Sifat Jaiz bagi para Rasul, yang terhimpun dalam 50 Simpul Akidah (Aqa'id Khamsin).

Tabel Lengkap 50 Aqa'idul Iman (Akidah 50)

Berikut adalah rincian lengkap 50 simpul keyakinan yang wajib dihafal dan diyakini oleh setiap muslim:

A. 41 Sifat Ketuhanan (Bagi Allah SWT)

No Kelompok Sifat 20 Sifat Wajib 20 Sifat Mustahil (Lawan)
1NafsiyahWujud (Ada)'Adam (Tiada)
2SalbiyahQidam (Terdahulu Tanpa Awal)Huduts (Baru/Ada Permulaan)
3Baqa' (Kekal Tanpa Akhir)Fana' (Rusak/Binasah)
4Mukhalafatu lil Hawaditsi (Berbeda dari Makhluk)Mumatsalatu lil Hawaditsi (Menyerupai Makhluk)
5Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri Sendiri)Ihtiyaj ila Ghairihi (Butuh pada yang Lain)
6Wahdaniyah (Maha Esa)Ta'addud (Berbilang/Lebih dari Satu)
7Ma'aniQudrat (Maha Kuasa)'Ajzun (Lemah)
8Iradat (Maha Berkehendak)Karahah (Terpaksa)
9'Ilmu (Maha Mengetahui)Jahlun (Bodoh/Tidak Tahu)
10Hayat (Maha Hidup)Mautun (Mati)
11Sama' (Maha Mendengar)Shamamun (Tuli)
12Bashar (Maha Melihat)'Amma (Buta)
13Kalam (Maha Berfirman)Bakamun (Bisu)
14Ma'nawiyahKaunuhu Qadiran (Keberadaan-Nya Maha Kuasa)Kaunuhu 'Ajizan (Keadaan-Nya Lemah)
15Kaunuhu Muridan (Keberadaan-Nya Maha Berkehendak)Kaunuhu Mukrahan (Keadaan-Nya Terpaksa)
16Kaunuhu 'Aliman (Keberadaan-Nya Maha Mengetahui)Kaunuhu Jahilan (Keadaan-Nya Bodoh)
17Kaunuhu Hayyan (Keberadaan-Nya Maha Hidup)Kaunuhu Mayyitan (Keadaan-Nya Mati)
18Kaunuhu Sami'an (Keberadaan-Nya Maha Mendengar)Kaunuhu Ashamma (Keadaan-Nya Tuli)
19Kaunuhu Bashiran (Keberadaan-Nya Maha Melihat)Kaunuhu A'ma (Keadaan-Nya Buta)
20Kaunuhu Mutakalliman (Keberadaan-Nya Maha Berfirman)Kaunuhu Abkama (Keadaan-Nya Bisu)
1 Sifat Jaiz Allah Fi'lu kulli mumkinin aw tarkuhu (Boleh bagi Allah menciptakan segala sesuatu yang mungkin terjadi atau meninggalkannya).

B. 9 Sifat Kenabian (Bagi Para Rasul 'Alaihimussalam)

No 4 Sifat Wajib Rasul 4 Sifat Mustahil (Lawan) 1 Sifat Jaiz Rasul
1Siddiq (Jujur dan Benar)Kadzib (Dusta/Bohong)A'radhul Basyariyah
(Mengalami sifat-sifat kemanusiaan biasa yang tidak menurunkan derajat kenabian dan kemuliaan mereka, seperti makan, minum, tidur, berkeluarga, berniaga, dan mengalami sakit ringan).
2Amanah (Terpercaya dan Terpelihara dari Dosa)Khianat (Curang/Khianat)
3Tabligh (Menyampaikan Seluruh Wahyu)Kitman (Menyembunyikan Risalah)
4Fathanah (Cerdas, Cerdik, dan Bijaksana)Baladah (Bodoh/Dungu)

Total Akidah 50: 20 Wajib + 20 Mustahil + 1 Jaiz Allah + 4 Wajib + 4 Mustahil + 1 Jaiz Rasul = 50 Simpul Aqa'idul Iman.

1. Pengertian Sifat Wujud dan Hakikat Sifat Nafsiyah

Sifat pertama yang wajib diketahui secara terperinci adalah sifat Al-Wujud (Ada). Syekh Ibrahim Al-Bajuri mendefinisikan sifat Wujud dengan ungkapan yang sangat jernih:

"Al-Wujud adalah sifat bagi Dzat yang tidak menerima ketiadaan sama sekali (Dzatun la taqbalul 'adama abadan)."

Dalam klasifikasi akidah, Wujud menempati posisi tunggal sebagai Sifat Nafsiyah. Sifat Nafsiyah adalah sifat yang menunjukkan kepada eksistensi Dzat Allah itu sendiri tanpa adanya penambahan makna sifat di luar Dzat.

Penting untuk ditegaskan: wujud Allah bukanlah wujud fisik materi yang menempati ruang, dibatasi oleh ukuran, atau tersusun dari organ tubuh seperti makhluk. 

Keterbatasan akal manusia untuk menjangkau hakikat Dzat Allah justru menjadi bukti kesucian dan keagungan-Nya. Allah mustahil diserupakan dengan apapun yang terlintas dalam benak kita, sebab akal manusia hanya mampu membayangkan apa yang pernah dilihatnya dari makhluk.

Kemudian, di antara kelembutan dan kebijaksanaan Syekh Al-Bajuri dalam kitab Tijan Ad-Darari, beliau memberikan batasan yang meringankan bagi orang awam:

"Cukuplah bagi seorang mukallaf meyakini dengan mantap bahwa Allah Ta'ala itu ada dengan keberadaan yang wajib (*wujud wajib*). Dan tidak wajib baginya menyelami perdebatan apakah keberadaan wujud itu persis sama dengan Dzat-Nya ('ainu adz-dzat) ataukah sesuatu yang menempel pada Dzat (za'idun 'ala adz-dzat), karena itu termasuk perkara yang sangat samar dan mendalam dalam ilmu Kalam."

2. Pembagian Pengertian Wujud

Para ulama tauhid membagi pengertian wujud (keberadaan) menjadi tiga bagian agar manusia tidak keliru menyamakan keberadaan dirinya dengan keberadaan Tuhannya:

  1. Wujud Idhofi: Adanya sesuatu karena bersandar pada perbandingan status dengan yang lain. Contoh: Sebutan "ayah" baru ada jika ada "anak". Sebutan "kakek" ada jika ada "cucu".
  2. Wujud 'Aridhi: Adanya sesuatu karena diadakan oleh pencipta lain, di mana sebelumnya ia berada dalam ketiadaan. Contoh: Adanya alam semesta beserta manusia. Alam ini ada karena diciptakan Allah, sebelumnya alam itu tidak ada.
  3. Wujud Haqiqi / Wujud Dzat: Adanya Dzat yang tidak bersandar kepada apapun, tidak bermula dari ketiadaan, dan tidak akan pernah punah. Contoh: Wujud Dzat Allah SWT. Allah ada dengan sendirinya, mandiri (*Qiyamuhu Binafsihi*), dan tidak membutuhkan siapapun. Ada ataupun tidak adanya alam semesta, Dzat Allah tetap Wajib Wujud-Nya.

3. Dua Saluran Menemukan Sifat Wujud

Keberadaan sesuatu dapat diketahui melalui dua saluran pembuktian:

  1. Wujud yang Ditemukan dengan Panca Indera: Sesuatu yang dapat ditangkap oleh indera penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa, atau peraba. Contoh: Udara sejuk yang diraba kulit, gunung yang dilihat mata, atau manis yang dirasakan lidah.
  2. Wujud yang Ditemukan dengan Akal (Logika): Sesuatu yang tidak berwujud fisik kasat mata, namun keberadaannya dipastikan secara mutlak oleh akal sehat. Contoh: Sifat pintar, keberanian, cinta, dan gravitasi. Demikian pula wujud Dzat Allah: di dunia fana ini tidak dapat dilihat oleh mata kepala, namun akal sehat mewajibkan keberadaan-Nya melalui karya ciptaan-Nya.

4. Dalil Naqli (Al-Qur'an) Kewajiban Mengetahui Keberadaan Allah

Kewajiban meyakini adanya Allah adalah perkara Fardhu 'Ain bagi setiap mukallaf. Landasannya ditegaskan secara eksplisit di dalam Al-Qur'an:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ

"Maka ketahuilah (wahai Muhammad), bahwa tidak ada Ilah (Tuhan yang berhak disembah) selain Allah..."
(QS. Muhammad [47]: 19)

Perintah "Fa'lam" (Maka ketahuilah/ilmuilah) bermakna wajib memiliki keyakinan yang pasti (jazm) yang bersumber dari dalil, bukan sekadar ikut-ikutan tanpa dasar (taqlid buta), sehingga terbebas dari keraguan (syakk), dugaan (zhann), dan angan-angan (waham).

5. Pandangan Hukum Syara' terhadap Hukum Akal tentang Sifat Wujud

  1. Hukum Syara' Mewajibkan Keyakinan: Syariat mewajibkan iktikad bulat bahwa Allah itu ada. Keyakinan inilah yang menjadi syarat sahnya iman seseorang.
  2. Hukum Syara' Menguatkan Dalil Akal: Al-Qur'an secara langsung memvalidasi logika akal dalam merenungi semesta, sebagaimana firman-Nya dalam Surat Ar-Ra'd ayat 16:

    قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلِ اللَّهُ ۚ قُلْ أَفَاتَّخَذْتُمْ مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ

    "Katakanlah: Siapakah Tuhan langit dan bumi? Katakanlah: Allah. Katakanlah: Pantaskah kamu mengambil pelindung-pelindung selain Allah..."
    (QS. Ar-Ra'd [13]: 16)

6. Cara Menyusun Dalil Aqli Keberadaan Allah Menurut Kitab Tijan Ad-Darari

Syekh Ibrahim Al-Bajuri dalam kitab Tijan Ad-Darari mengajarkan cara merangkai argumentasi logika sederhana (*qiyas aqli*) yang sangat kokoh dan tidak dapat dibantah:

"Dan cara menyusun dalil atas wajibnya keberadaan Allah Ta'ala adalah engkau katakan: 'Alam semesta ini, mulai dari 'Arsy yang tertinggi sampai ke hamparan bumi, adalah baru (hadits)—yaitu baru ada setelah sebelumnya tidak ada. Dan setiap yang baharu pasti membutuhkan Dzat yang membuatnya. Dan alam ini nyata ada, maka pasti ada Dzat yang membuatnya.' Adapun pembuktian bahwa yang membuatnya adalah Allah Ta'ala Yang Maha Esa, maka hal itu diambil dari dalil sifat Wahdaniyah (Keesaan Allah)."

Secara ringkas, silogisme ini dibangun di atas 3 premis:

  1. Alam semesta itu hadits (baru): Buktinya alam terus berubah dari diam ke bergerak, dari hidup ke mati. Setiap yang berubah pasti baru.
  2. Setiap yang baru pasti butuh pencipta (Muhdits): Akal murni menolak sesuatu muncul dengan sendirinya dari ketiadaan tanpa sebab. Sebuah tulisan mustahil ada tanpa penulis; maka semesta mustahil ada tanpa Pencipta.
  3. Pencipta tersebut adalah Allah: Dzat Yang Maha Kuasa dan Maha Mengatur di balik penciptaan ini tidak lain adalah Allah SWT.

Syekh Al-Bajuri menegaskan: cukuplah bagi orang awam menjawab secara global (ijmali): "Buktinya adalah adanya makhluk-makhluk dan alam semesta ini."

7. Sifat Mustahil Lawan dari Sifat Wujud: Al-'Adam

Karena Allah wajib bersifat Wujud, maka mustahil bagi-Nya kebalikannya, yaitu Al-'Adam (الْعَدَمُ) yang artinya Tidak Ada / Tiada.

Dalam kaidah hukum akal:

  • Wajib 'Aqli: Sesuatu yang menurut akal pasti ada dan tidak dapat diterima ketiadaannya. Allah adalah Dzat yang Wajib al-Wujud.
  • Mustahil 'Aqli: Sesuatu yang menurut akal tidak mungkin terjadi. Maka ketiadaan Allah adalah perkara yang mustahil secara mutlak.
  • Ja'iz 'Aqli: Sesuatu yang boleh ada dan boleh tiada, yaitu seluruh makhluk ciptaan.

8. Buah Keimanan dan Pengamalan Sifat Wujud

Menghayati sifat Wujud melahirkan ketenangan dan benteng spiritual dalam kehidupan praktis:

  1. Menumbuhkan Muraqabatullah: Hati senantiasa sadar bahwa Allah benar-benar ada dan mengawasi setiap gerak lisan dan batin kita, sehingga terjaga dari kemaksiatan.
  2. Menghilangkan Keputusasaan: Mengetahui bahwa alam ini ada yang memiliki dan mengatur, sehingga jiwa menjadi tenang dalam menghadapi badai ujian hidup.
  3. Memurnikan Ibadah: Berserah diri dan berdoa hanya kepada Dzat Yang Wajib Wujud-Nya, bukan kepada makhluk yang sama-sama lemah dan fana.

Hal-Hal yang Kerap Mengganjal di Hati Seputar Sifat Wujud

Saat pertama kali menyelami ilmu tauhid, wajar sekali jika muncul beberapa pertanyaan di benak kita. Mari kita ulas dan luruskan bersama-sama dengan bahasa yang lebih santai dan mudah dipahami:

1. Kenapa sifat Wujud selalu ditaruh di nomor satu? Bukankah sifat Maha Pengasih atau Maha Kuasa terasa lebih sering kita sebut?

Sederhana saja analoginya. Bayangkan saat kita mendengar cerita tentang sosok yang katanya sangat pintar, kaya raya, dan dermawan. Hal paling pertama yang pasti kita pastikan adalah: apakah orangnya benar-benar ada? Tentu kita tidak bisa membicarakan kehebatan seseorang jika sosoknya fiktif.

Begitu pula dalam mengenal Allah. Sifat Wujud (Ada) adalah kunci pintu gerbangnya. Kita tidak mungkin bisa menghayati sifat Allah yang Maha Mengetahui, Maha Kuasa, atau Maha Mendengar sebelum hati kita mantap menetapkan bahwa Dzat-Nya memang benar-benar Ada. 

Karena itulah, para ulama menempatkan Wujud di barisan paling depan sebagai pondasi utama.

2. Bagaimana dengan orang awam yang tidak paham istilah-istilah rumit ilmu kalam? Apakah keimanannya tetap sah?

Kabar baiknya: Alhamdulillah, tetap sah dan diterima. Para ulama Ahlussunnah bersepakat bahwa Islam tidak pernah membebani masyarakat awam untuk menghafal istilah-istilah filsafat yang pelik.

Yang wajib bagi kita sebenarnya sangat ringkas: hati kita mantap yakin 100% tanpa setitik pun keraguan bahwa Allah itu Ada. Dan ketika melihat matahari terbit, pergantian malam, atau hembusan napas kita sendiri, nurani kita spontan mengakui bahwa semua keindahan ini pasti ada Penciptanya. 

Sesederhana itu kepasrahan seorang hamba, dan itu sudah sangat cukup untuk menjaga sahnya iman.

3. Lalu, apa bedanya "ada"-nya kita sebagai manusia dengan "Ada"-nya Allah?

Perbedaannya bagaikan bumi dan langit. Keberadaan kita disebut Mumkinul Wujud (keberadaan yang serba mungkin). Artinya, kita ini dulunya tidak ada, lalu diciptakan, setiap detik butuh pasokan udara dan rezeki dari Allah, dan kelak kita pasti akan mati.

Sedangkan keberadaan Allah disebut Wajibul Wujud (keberadaan yang mutlak dan pasti). Artinya, akal gharizi berpendapat bahwa Allah itu Ada sedangkan ketidak beradaannya adalah mustahil karena adanya bukti ciptaan-Nya.

Allah tidak pernah bermula dari ketiadaan, tidak akan pernah binasa, dan sama sekali tidak membutuhkan bantuan alam semesta. Kitalah yang butuh Allah di setiap detak jantung, sementara Allah Maha Kaya dan Maha Berdiri Sendiri.

Penutup

Memahami sifat Wujud dan menguasai ikhtisar 50 Aqa'idul Iman melalui bimbingan Syekh Ibrahim Al-Bajuri dalam kitab Tijan Ad-Darari membuka cakrawala tauhid yang jernih, murni, dan kokoh.

Alam semesta yang terbentang luas dari ufuk timur hingga ufuk barat hakikatnya adalah ayat-ayat kauniyah yang bersaksi tanpa henti bahwa Allah itu Ada, Maha Esa, dan Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa menghunjamkan keyakinan yang mantap ke dalam sanubari kita, membersihkan akidah kita dari syubhat keraguan, serta mengokohkan langkah kita di atas jalan keimanan Ahlussunnah wal Jama'ah yang lurus hingga akhir hayat. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.