Beranda / Aqidah / Mukhalafatu Lil Hawaditsi: Membebaskan Akal Membayangkan Allah

Mukhalafatu Lil Hawaditsi: Membebaskan Akal Membayangkan Allah

Imajinasi manusia memiliki satu keterbatasan yang amat mendasar: akal hanya mampu merekonstruksi hal-hal yang pernah ia lihat, ia raba, ia dengar, atau ia rasakan di alam semesta. 

Ketika seseorang mendengar kata "ada", lintasan pikiran secara refleks kerap kali mengaitkannya dengan wujud yang memiliki bentuk, bertempat di suatu ruang, dibatasi oleh ukuran, atau bergerak seiring berjalannya waktu. 

Padahal, seluruh perangkat ukur tersebut hanyalah ciri khas makhluk ciptaan yang serba baru (hawadits).

Dalam ilmu tauhid yang diwariskan oleh para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah, terdapat satu fondasi penjaga akidah yang berfungsi memurnikan kesadaran batin kita, yaitu sifat Mukhalafatu Lil Hawaditsi—sifat wajib yang menegaskan bahwa Allah Ta'ala mutlak berbeda dari segala hal yang diciptakan-Nya.

Disarikan berdasarkan pemaparan syekh Ibrahim Al-Bajuri di dalam kitab Tijan Ad-Darari, berikut ini penjelasannya.

Ilustrasi Gambar Sifat Mukhalafatu Lilhawaditsi


Kedudukan Sifat Mukhalafatu Lil Hawaditsi dalam Sifat Salbiyah

Sifat Mukhalafatu Lil Hawaditsi menempati urutan ketiga dari kelompok sifat-sifat Salbiyah. 

Disebut salbiyah karena tugas hakiki dari sifat ini adalah meniadakan (salb) setiap prasangka, sifat kekurangan, atau keserupaan makhluk yang mustahil melekat pada kesucian Dzat Allah.

Para ulama menegaskan bahwa beriman kepada sifat ini merupakan kewajiban syar'i bagi setiap mukallaf (orang yang telah baligh dan berakal). Landasan naqli yang menjadi poros utama pembahasan ini termaktub dalam firman Allah Ta'ala:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11)

Ayat ini menyandingkan penafian total keserupaan (tanzih) dengan penetapan sifat kesempurnaan (itsbat). 

Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat, namun pendengaran dan penglihatan-Nya sama sekali tidak menyerupai cara makhluk mendengar lewat daun telinga atau melihat lewat kornea mata yang dibatasi jangkauan cahaya.

Pokok Makna Mukhalafah Menurut Teks Kitab Kuning

Dalam naskah kitab tauhid klasik, Tijan Ad-Darari, sifat Mukhalafah lil-Makhluqat didefinisikan secara sangat terukur:

فَالْمُخَالَفَةُ لِلْمَخْلُوقَاتِ عِبَارَةٌ عَنْ سَلْبِ الْجِرْمِيَّةِ وَالْعَرَضِيَّةِ وَالْكُلِّيَّةِ وَالْجُزْئِيَّةِ وَلَوَازِمِهَا عَنْهُ تَعَالَى

Makna berbeda dari makhluk adalah peniadaan empat dimensi fisik beserta konsekuensi logisnya dari Dzat Allah:

  1. Peniadaan Sifat Materi (Salbul Jirmiyyah): Allah bukanlah jirim (benda berwujud materi yang padat, cair, maupun gas). Konsekuensi logis dari sebuah materi adalah tahayyuz (mengambil tempat atau memenuhi volume ruang). Karena Allah bukan materi, maka mustahil Allah membutuhkan tempat atau dinaungi ruang.
  2. Peniadaan Sifat Aksiden / Sifat Fisik Tempelan (Salbul 'Aradhiyyah): Allah bukanlah 'aradh (sifat-sifat fisik yang menempel pada benda, seperti warna, suhu, rasa, atau ukuran). Sifat fisik selalu membutuhkan wadah lain untuk berdiri (al-qiyamu bil-ghair), sedangkan Allah adalah Zat yang Maha Berdiri Sendiri.
  3. Peniadaan Keutuhan Susunan (Salbul Kulliyyah): Allah bukan gabungan dari bagian-bagian organ yang dirangkai menjadi satu keutuhan tubuh yang besar.
  4. Peniadaan Bagian-Bagian (Salbul Juz'iyyah): Allah bukan pula serpihan, pecahan, atau atom (jauhar fard) yang kecil. Allah Maha Esa, tidak terbagi-bagi dan tidak tersusun.

Ketika akal memahami peniadaan ini, gugurlah segala bayangan bentuk fisik: Allah tidak pendek, tidak tinggi jangkung, tidak bulat, tidak persegi, bukan warna putih, bukan hitam, dan bukan cahaya materi yang terang benderang.

Meluruskan Pertanyaan: "Lantas, Seperti Apa Hakikat-Nya?"

Salah satu pembahasan yang sangat indah di dalam kitab adalah saat mu'alif syekh Ibrahim Al-Bajuri mengantisipasi lintasan pikiran manusia:

فَإِذَا أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي ذِهْنِكَ أَنَّهُ تَعَالَى إِذَا لَمْ يَكُنْ جِرْمًا وَلَا عَرَضًا وَلَا كُلًّا وَلَا جُزْءًا فَمَا حَقِيقَتُهُ؟

Tatkala lintasan pikiran atau bisikan membayangi benak: "Jika Allah bukan materi padat, bukan sifat warna/cahaya, bukan tubuh besar, dan bukan bagian kecil, lantas bagaimana bentuk hakikat-Nya?"

Jawaban para ulama sangat tenang dan menyejukkan:

لَا يَعْلَمُ اللَّهَ إِلَّا اللَّهُ
“Tidak ada yang mengetahui hakikat Dzat Allah selain Allah sendiri.”

Akal manusia diciptakan untuk memikirkan ciptaan-Nya (af'al dan makhluk-Nya), bukan untuk membatasi Dzat Penciptanya. Sebagaimana mutiara hikmah yang masyhur dari Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu: "Ketidakmampuan akal dalam mencapai hakikat Dzat Allah, itulah puncak pemahaman hakiki."

Hubungan Allah dengan Ruang, Arah, dan Waktu

Pemahaman Mukhalafatu Lil Hawaditsi membersihkan hati dari kerancuan menempatkan Allah pada koordinat alam semesta. Kitab secara gamblang memaparkan rinciannya:

  • Maha Suci dari Terikat Tempat: Tempat dan ruang adalah makhluk yang baru diciptakan. Sebelum alam semesta, langit, bumi, dan Arsy diciptakan, Allah sudah ada. Maka setelah seluruh alam ini tercipta, keberadaan Allah tetap sebagaimana sedia kala: tidak membutuhkan tempat dan tidak dibatasi oleh ruang.
  • Maha Suci dari Terkurung Arah: Arah atas, bawah, kanan, kiri, depan, dan belakang adalah ciptaan yang diciptakan untuk memandu gerak makhluk. Allah tidak diliputi oleh enam arah mata angin tersebut. Allah tidak di atas Arsy dalam artian fisik bertengger, bukan pula di bawah, di kanan, atau di kiri.
  • Maha Suci dari Putaran Waktu: Waktu terhitung dari perputaran benda langit (harakatul falak). Allah adalah Pencipta waktu, sehingga Allah tidak mengalami masa lalu, masa kini, masa tua, ataupun perubahan fase layaknya makhluk yang menua dan berganti keadaan.
  • Kedekatan yang Melampaui Jarak: Ketika Al-Qur'an menyebutkan bahwa Allah lebih dekat dari urat leher hamba-Nya (QS. Qaf: 16), kedekatan ini adalah kedekatan ilmu, pengawasan (muraqabah), dan pemeliharaan-Nya yang meliputi segala hal, bukan kedekatan jarak sentimeter atau fisik yang menempel.

Dalil Akal (Logika Rasional)

Mengapa Allah mustahil serupa dengan makhluk (al-mumatsalah)? Logikanya sangat kokoh dan runtut:

  1. Seandainya Allah serupa dengan makhluk pada salah satu sifat materi atau keterbatasannya, niscaya hukum-hukum makhluk berlaku pula bagi-Nya.
  2. Sesuatu yang memiliki sifat makhluk pasti merupakan makhluk yang baru (hadits), membutuhkan pencipta lain yang mengadakannya.
  3. Keadaan ini jelas batil dan mustahil, karena telah tegak dalil pasti bahwa Allah bersifat Wujud, Qidam (Maha Terdahulu tanpa awal), dan Baqa' (Maha Kekal tanpa akhir).
  4. Karena keserupaan itu mustahil, maka wajib secara akal bahwa Allah berbeda secara mutlak dari segala ciptaan-Nya.

Pandangan Ulama Ahlussunnah terhadap Nash-Nash Mutasyabihat

Di dalam Al-Qur'an dan Hadits, terkadang ditemukan lafaz-lafaz yang secara zahir bahasa manusia seolah menggambarkan fisik, seperti kata yad (tangan), wajh (wajah), atau istiwa' (bersemayam). 

Dalam menyikapi teks-teks mutasyabihat ini, ulama Ahlussunnah wal Jama'ah terbagi menjadi dua madzhab utama yang sama-sama berpegang teguh pada kesucian Allah:

  1. Metode Salaf (Tafwidh): Menetapkan teks sebagaimana datangnya dari wahyu, meyakini maknanya sesuai dengan keagungan Allah, seraya menyerahkan hakikat maksud rincinya kepada Allah (tafwidh), dengan keyakinan bulat bahwa Allah bersih dari makna fisik anggota badan, tempat, dan batas.
  2. Metode Khalaf (Ta'wil Ijmali/Tafshili): Mengarahkan lafaz tersebut kepada makna majas (majaz mursal) yang layak dan selaras dengan kaidah bahasa Arab serta keagungan sifat ilahi. Misalnya: kata yad dialihkan maknanya menjadi kekuasaan (qudrah) atau anugerah nikmat, dan wajh dimaknai keridhaan atau Dzat Allah Yang Maha Kekal.

Kedua pendekatan ini bermuara pada satu prinsip yang sama: menolak anggapan bahwa Allah berwujud jasmani atau serupa dengan makhluk ciptaan-Nya.

Mensucikan Dzat Allah dari sifat materi/kebendaan merupakan keharusan karena menganggap-Nya sama dengan makhluk sama saja merendahkan-Nya, sedangkan Allah Maha Agung, Maha Tinggi.

Karena akal manusia tidak sampai untuk menggambarkan Dzat Allah, maka keberadaan-Nya sebagai Tuhan yang Maha Kuasa menjadi sangat logis dan syari'at melarang kita membayangkan Dzat-Nya.

Karena bagaimana mungkin, Tuhan yang memiliki kuasa yang tak terbatas disamakan dengan sesuatu yang bersifat materi/kebendaan dan menempati/diliputi oleh ruang? Karena yang seperti itu sudah pasti memiliki kekurangan, keterbatasan, kelemahan dan butuh kepada yang lain. 

Allah suci dari segala sesuatu yang menyerupai makhluk.

Catatan Perenungan

Mempelajari sifat Mukhalafatu Lil Hawaditsi pada akhirnya bukan sekadar melatih ketangkasan berlogika di dalam majelis ilmu, melainkan sebuah proses pembersihan ruang batin. 

Tatkala kita bersujud dalam hening, hati kita tidak lagi disibukkan oleh rekaan bentuk, ruang, atau rupa, melainkan dipenuhi oleh rasa takzim, kagum, dan tawadhu' di hadapan Dzat Yang Maha Sempurna, Dzat yang keagungan-Nya melampaui segala keterbatasan bahasa dan imajinasi manusia.