Beranda / Aqidah / Sifat Wahdaniyat Tijan Ad-Darari: Rahasia Keesaan & Sebab Akibat

Sifat Wahdaniyat Tijan Ad-Darari: Rahasia Keesaan & Sebab Akibat

Di balik keteraturan alam jagat raya yang terbentang luas dari gugusan galaksi hingga denyut nadi terkecil, akal manusia kerap tergoda untuk membagi kekuasaan semesta kepada banyak tangan atau menyandarkan keajaiban hidup kepada materi yang kasatmata.

Kerap kali mata memandang api yang membakar seolah memiliki daya mandiri, obat yang diminum seakan-akan menyembuhkan dengan kekuatannya sendiri, atau membayangkan adanya sekutu yang berbagi tahta ketuhanan. 

Padahal di dalam pandangan tauhid yang murni, seluruh sandiwara sebab-akibat di alam semesta hanyalah tirai tipis yang menutupi satu-satunya Pelaku Hakiki: Al-Wahdaniyyah (الْوَحْدَانِيَّةُ).

Setelah kita mengakar kuat pada sifat Al-Wujud, Al-Qidam, Al-Baqa', Mukhalafatu lil Hawaditsi, dan Qiyamuhu Binafsihi, pondasi akidah Salbiyah berikutnya yang wajib dipatri dalam sanubari adalah sifat Wahdaniyat (Maha Esa). 

Sifat ini bukan sekadar hitungan angka matematika bahwa Tuhan berjumlah satu, melainkan penegasan mutlak bahwa Dzat, Sifat, dan Perbuatan Allah mustahil tersusun, bersekutu, atau tertandingi oleh apa pun.

Kajian mendalam ini disarikan langsung dari rujukan agung akidah Ahlussunnah wal Jama'ah Asy'ariyah, yaitu kitab Tijan Ad-Darari fi Syarhi Risalah al-Bajuri karya ulama besar Nusantara yang menjadi kiblat keilmuan Masjidil Haram, Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar Al-Bantani. 

Kitab ini mengurai tuntas konsep lima macam kemajemukan (Kam), logika Burhan At-Tawarud dan At-Tamanu', hingga empat golongan manusia dalam menyikapi hukum sebab-akibat.


Tabel Ringkasan Sifat Wahdaniyat

Sifat Wajib Klasifikasi Sifat Sifat Mustahil (Lawan) Hukum Akal
Al-Wahdaniyyah (Maha Esa) Sifat Salbiyah (Peniadaan Cacat) At-Ta'addud (Berbilang / Banyak) Wajib 'Aqli (Pasti Esa)

1. Makna Hakiki Sifat Wahdaniyat

Secara etimologi, Al-Wahdaniyyah berarti ketunggalan atau ketiadaan sekutu. Adapun secara terminologi ilmu tauhid, Syekh Nawawi Al-Bantani di dalam matan dan syarah Tijan Ad-Darari menegaskan:

"Wajib pada hak Allah Ta'ala memiliki sifat Wahdaniyat pada Dzat-Nya, pada Sifat-sifat-Nya, dan pada Perbuatan-perbuatan-Nya (Af'al)."

Sama halnya dengan sifat Qidam dan Baqa', sifat Wahdaniyat digolongkan ke dalam Sifat Salbiyah. 

Artinya, fungsi utama dari sifat ini adalah melenyapkan serta menolak anggapan-anggapan keliru yang tidak layak disandarkan kepada Allah, yakni menolak segala bentuk kemajemukan, keterbagian, dan persekutuan.

2. Membedah Lima Bentuk Bilangan (Al-Kumum Al-Khamsah)

Salah satu intisari paling berharga dari pembahasan sifat Wahdaniyat dalam kitab Tijan Ad-Darari adalah tuntasnya penolakan terhadap apa yang diistilahkan para ulama tauhid sebagai Al-Kumum Al-Khamsah (Lima Macam Kuantitas/Kemajemukan). 

Keberadaan sifat Wahdaniyat meruntuhkan kelima konsep kemajemukan ini secara mutlak:

Bentuk Kemajemukan (Kam) Pengertian dan Gambarannya Dinafikan Oleh Status Hukum
Kam Muttashil pada Dzat Dzat tersusun dari bagian-bagian tubuh, organ, partikel, atau sel-sel yang dirangkai. Keesaan Dzat Mustahil bagi Allah
Kam Munfashil pada Dzat Adanya dzat lain di luar Allah yang memiliki kedudukan setara sebagai tuhan kedua atau ketiga. Keesaan Dzat Mustahil bagi Allah
Kam Muttashil pada Sifat Allah memiliki dua sifat atau lebih dari satu jenis, misalnya memiliki dua sifat Kuasa (Qudrat) atau dua Ilmu. Keesaan Sifat Mustahil bagi Allah
Kam Munfashil pada Sifat Ada makhluk yang memiliki sifat yang menyerupai sifat Allah, misalnya kekuatan mandiri menciptakan sesuatu. Keesaan Sifat Mustahil bagi Makhluk
Kam Munfashil pada Perbuatan Adanya makhluk yang ikut andil secara mandiri dalam menciptakan, menghidupkan, atau mematikan. Keesaan Perbuatan Mustahil Bersekutu

Adapun mengenai Kam Muttashil pada Perbuatan, Syekh Nawawi memberikan catatan kritis yang sangat menarik: jika yang dimaksud adalah berbilangnya ragam ciptaan (seperti Allah menciptakan manusia, langit, memberi rezeki, dan mematikan), maka hal itu tetap sah bagi Allah karena perbuatan-Nya memang tidak terhingga banyaknya. 

Namun jika dimaknai ada dzat lain yang ikut serta menyusun perbuatan tersebut, maka secara mutlak tertolak oleh keesaan perbuatan-Nya.

3. Logika Akal: Mengapa Mustahil Ada Dua Penguasa Semesta?

Bagaimanakah nalar murni membuktikan bahwa alam semesta ini mustahil dikendalikan oleh dua tuhan atau lebih? 

Kitab Tijan Ad-Darari menyajikan dua buah bangunan argumen rasional klasik yang menjadi pondasi kokoh para ulama kalam:

A. Burhan At-Tawarud (Argumen Kemustahilan Tumpang Tindih)

Katakanlah ada pengandaian bahwa di alam raya ini ada dua tuhan yang berkuasa penuh, dan keduanya bersepakat dalam satu visi untuk menciptakan sebuah benda (misalnya sebutir biji gandum). Nalar sehat akan menemukan tiga jalan buntu:

  • Mustahil Mewujudkan Bersama-sama: Karena akan terjadi apa yang disebut Ijtima'ul Mu'atstsiraini 'ala Atsarin Wahid (berkumpulnya dua pencipta mandiri atas satu ciptaan yang sama), yang merupakan kemustahilan akal.
  • Mustahil Mewujudkan Bergantian: Jika tuhan pertama telah mewujudkan biji gandum tersebut, mustahil tuhan kedua ikut mewujudkannya lagi, karena itu berarti Tahshilul Hashil (membuat sesuatu yang nyatanya sudah berwujud).
  • Mustahil Berbagi Tugas: Jika tuhan pertama menciptakan separuh dan tuhan kedua separuhnya lagi, maka keduanya sama-sama terbukti lemah ('Ajz). Sebab, ketika wilayah kekuasaan tuhan pertama tertutup bagi tuhan kedua, berarti kekuasaan masing-masing memiliki batas. Sesuatu yang memiliki batas tidak pantas menyandang gelar Tuhan.

B. Burhan At-Tamanu' (Argumen Saling Menghalangi)

Bagaimana jika kedua tuhan tersebut berselisih kehendak? Misalnya tuhan pertama menghendaki seseorang hidup, sementara tuhan kedua menghendaki orang tersebut mati saat itu juga:

  • Jika kehendak keduanya terwujud bersamaan, niscaya terjadi hal yang kontradiktif (orang itu hidup sekaligus mati dalam satu waktu), dan ini mustahil.
  • Jika kehendak keduanya sama-sama gagal terlaksana, maka keduanya terbukti lemah dan tak berdaya.
  • Jika hanya kehendak tuhan pertama yang terlaksana sedangkan tuhan kedua gagal, maka tuhan kedua jelas terbukti memiliki kelemahan. Dan tuhan pertama pun sama lemahnya karena ia berstatus sejenis dengan pesaingnya.

Maka dari kedua burhan tersebut, gugurlah secara mutlak anggapan adanya tuhan yang berbilang. Fakta bahwa alam semesta ini tegak dengan harmoni yang presisi membuktikan kebenaran firman Allah di dalam Al-Qur'an:

لَوْ كَانَ فِيْهِمَآ اٰلِهَةٌ اِلَّا اللّٰهُ لَفَسَدَتَا

"Seandainya pada keduanya (langit dan bumi) ada tuhan-tuhan selain Allah, tentu keduanya telah binasa..."
(QS. Al-Anbiya [21]: 22)

4. Menyingkap Rahasia Wahdaniyatul Af'al: Empat Golongan dalam Memandang Sebab-Akibat

Kajian tauhid tidak berhenti pada ranah teologi abstrak. Pada lembaran syarahnya, Syekh Nawawi Al-Bantani membawa pemahaman sifat Wahdaniyat ke dalam realitas kehidupan sehari-hari melalui pembahasan hukum keterikatan antara sebab (asbab) dan akibat (musabbabat). Beliau memetakan manusia ke dalam empat kelompok keyakinan:

1. Kelompok Kafir Secara Ijma' (Al-Kafir bil Ijma')

Yaitu orang yang meyakini bahwa hukum alam atau sebab-sebab materil dapat memberi pengaruh dengan sendirinya secara tabiat alami. 

Contohnya: berkeyakinan bahwa apilah yang secara mandiri membakar, airlah yang dengan kekuatannya sendiri menghilangkan dahaga, atau obatlah yang berkuasa menyembuhkan penyakit tanpa campur tangan Allah.

2. Kelompok Fasik dan Ahli Bid'ah (Al-Fasiq Al-Mubtadi')

Yaitu orang yang meyakini bahwa yang memberi kesembuhan atau mengenyangkan adalah obat dan makanan, namun daya kekuatan tersebut adalah daya yang dititipkan atau diciptakan Allah di dalam benda-benda tersebut. Mereka beranggapan jika daya itu dicabut oleh Allah, barulah benda itu tak berkhasiat.

Syekh Nawawi menjelaskan bahwa pandangan ini batil karena menganggap Allah masih butuh 'perantara' dalam mewujudkan perbuatan-Nya. 

Paham ini menyerupai keyakinan sebagian kaum Mu'tazilah. Pelakunya tidak dihukumi kafir menurut pendapat yang paling sahih (al-ashahh), melainkan fasik dan melakukan bid'ah dalam akidah.

3. Kelompok Bodoh (Al-Jahil)

Yaitu orang yang meyakini bahwa yang memberi pengaruh sesungguhnya hanyalah Allah semata, namun ia menganggap hubungan antara sebab dan akibat terikat secara nalar akal (Talazum 'Aqli). 

Artinya, ia menganggap akal mustahil menerima jika ada api menyala tapi tidak membakar, atau mustahil ada orang makan tapi tidak kenyang.

Orang seperti ini disebut jahil (bodoh) karena ia belum memahami mukjizat para nabi, seperti kisah Nabi Ibrahim 'alaihissalam yang tidak terbakar sedikit pun saat dilemparkan ke dalam kobaran api unggun Raja Namrud.

4. Kelompok Mukmin yang Selamat (Al-Mu'minun Naaji)

Inilah akidah murni Ahlussunnah wal Jama'ah: orang yang meyakini dengan teguh bahwa satu-satunya Dzat yang memberi pengaruh hanyalah Allah Subhanahu wa Ta'ala. Adapun hubungan antara obat dan sembuh, pisau dan terbelah, atau makan dan kenyang, hanyalah keterikatan berdasarkan kebiasaan hukum alam semata (Talazum 'Adi).

Secara hukum kebiasaan (adat), orang lapar akan kenyang setelah makan. Namun secara hukum akal, Allah Maha Kuasa membuat seseorang tetap lapar meski telah makan segunung hidangan, dan Allah Maha Kuasa mengenyangkan hamba-Nya tanpa sebutir nasi pun. Segala sesuatu tunduk mutlak di bawah kehendak dan kekuasaan-Nya.

Maka harus difahami bahwa sebagai mukmin harus meyakini, bahwa segala sesuatu (perkara mumkinat) tidak memberi dampak dengan kekuatannya maupun dengan tabiatnya kecuali atas izin Allah sebagaimana telah dijelaskan di atas.

Hukum adat berlaku karena Allah berkehendak, tapi bukan berarti kita bertindak gegabah menolak hukum adat seperti merasa yakin bahwa api tidak akan membakar dan menghanguskan kulit ketika disentuh.

Hujah bahwa nabi Ibrahim tidak hangus ketika dibakar api adalah karena Allah berkehendak agar beliau selamat dari jilatan api hingga tabiat api yang menghanguskan tidak Allah izinkan membakar dan beliaupun selamat.

Kejadian tersebut membuktikan kuasa Allah bahwa api adalah ciptaan-Nya dan Dia pula yang mengatur dan berkehendak atas api, bukan menampilkan kesombongan seseorang yang tidak mempan dibakar api.

Ruang Renung: Memurnikan Tauhid di Tengah Kesibukan Hidup

Mendalami sifat Wahdaniyat memberikan lentera jernih dalam meniti jalan ikhtiar di dunia modern. Sering kali manusia terjebak pada dua kutub yang sama-sama keliru: bersikap pasif tanpa usaha dengan dalih kepasrahan, atau bekerja keras hingga mengkultuskan ikhtiar seolah rezeki lahir dari keringatnya sendiri.

Keseimbangan batin seorang mukmin sejati berada di tengah-tengah: jemarinya tekun menempuh sebab-akibat sebagai bentuk adab kepatuhan pada syariat, namun batinnya tidak pernah menaruh sandaran pada sebab-sebab tersebut. 

Ia meminum obat dengan niat berikhtiar, namun keyakinan hatinya sepenuhnya tertuju kepada Sang Penyembuh.

Ia bekerja menjemput nafkah dengan integritas terbaik, namun ia menyadari sepenuhnya bahwa majikan, perusahaan, maupun keahlian bisnisnya bukanlah pemberi rezeki, melainkan hanya saluran yang digerakkan oleh Dzat Yang Maha Tunggal.

Penutup

Menyelami mutiara sifat Al-Wahdaniyyah melalui lembaran syarah kitab Tijan Ad-Darari karya Syekh Nawawi Al-Bantani membimbing jiwa kita untuk menanggalkan segala ketergantungan semu pada makhluk dan hukum materi.

Alam semesta adalah panggung ayat-ayat-Nya yang menampakkan betapa fana dan lemahnya segala selain Dia. 

Ketika hati telah menyaksikan dengan mata batin bahwa tiada sekutu bagi-Nya dalam Dzat, Sifat, dan Perbuatan, maka sirnalah rasa takut kepada makhluk, gugurlah riya' dalam beramal, dan terbitlah ketenangan tauhid yang membebaskan jiwa dari segala kegelisahan duniawi.