Makna Sifat Baqa Tijan Ad-Darari: Rahasia Abadinya Surga Neraka
Segala kemegahan di muka bumi ini perlahan tapi pasti sedang berjalan menuju titik akhirnya.
Gunung-gunung yang kokoh memancang kelak akan dihamburkan bagaikan bulu-bulu yang beterbangan, raga manusia yang gagah akan melebur bersama tanah, dan seluruh peradaban dunia akan sirna ditelan masa.
Di tengah kefanaan alam semesta yang serba fana ini, hanya ada satu Dzat Yang Tetap Kekal Abadi tanpa pernah tersentuh oleh kebinasaan: Al-Baqa' (الْبَقَاءُ).
Setelah kita mengimani sifat Al-Wujud (Ada) dan sifat Al-Qidam (Terdahulu Tanpa Awal), langkah pondasi akidah berikutnya yang wajib diyakini setiap mukallaf adalah sifat Baqa'.
Sifat ini menegaskan bahwa keberadaan Dzat Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak memiliki batas akhir, tidak akan pernah punah, dan mustahil lenyap.
Kajian mendalam ini disarikan secara sistematis dari kitab rujukan utama akidah Ahlussunnah wal Jama'ah (Asy'ariyah), yaitu Tijan Ad-Darari fi Syarhi Risalah al-Bajuri karya ulama besar Al-Azhar, Syaikhul Islam Ibrahim bin Muhammad Al-Bajuri.
Kitab ini mengupas tuntas korelasi logika antara sifat Qidam dan Baqa', klasifikasi tingkatan Baqa', serta hikmah spiritualnya dalam kehidupan sehari-hari.
Tabel Ringkasan Sifat Baqa'
| Sifat Wajib | Klasifikasi Sifat | Sifat Mustahil (Lawan) | Hukum Akal |
|---|---|---|---|
| Al-Baqa' (Maha Kekal) | Sifat Salbiyah (Peniadaan Cacat) | Al-Fana' (Binasah/Rusak) | Wajib 'Aqli (Pasti Abadi) |
1. Pengertian Sifat Al-Baqa' Secara Bahasa dan Istilah
Secara etimologi (bahasa), kata Al-Baqa' bermakna kelestarian, kelanggengan, atau keberlanjutan wujud tanpa henti.
Adapun secara istilah ilmu tauhid, Syekh Ibrahim Al-Bajuri dalam kitab Tijan Ad-Darari mendefinisikan Al-Baqa' sebagai:
"Sifat bagi Dzat yang tidak ada akhir bagi wujud-Nya ('Adamul Intiha' li Wujudihi Ta'ala). Dan maknanya adalah: Allah Ta'ala tidak akan pernah ditimpa kebinasaan sama sekali."
Sama seperti sifat Qidam, sifat Baqa' termasuk ke dalam kelompok Sifat Salbiyah. Sifat ini menafikan dan menolak segala bentuk kelemahan dari Dzat Allah, yaitu menafikan anggapan bahwa Allah bisa mati, musnah, berakhir, atau berganti Dzat.
2. Hubungan Erat Antara Sifat Qidam dan Sifat Baqa'
Para ulama tauhid menjelaskan bahwa sifat Qidam (Tidak Berawal) dan sifat Baqa' (Tidak Berakhir) adalah dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Keduanya saling mengunci satu sama lain secara rasional:
- Qidam = Memagari wujud Allah dari arah belakang (menafikan permulaan).
- Baqa' = Memagari wujud Allah dari arah depan (menafikan kesudahan).
Dengan demikian, wujud Allah adalah wujud yang mutlak di luar sangkar waktu: tidak ada ruang kosong sebelum Dia ada, dan tidak ada ruang kosong setelah segala sesuatu tiada.
3. Tiga Pembagian Konsep Baqa': Zamani, Nisbi, dan Haqiqi
Sebagaimana pada pembahasan sifat Qidam, para ulama tauhid menegaskan bahwa kata "kekal" atau "abadi" dalam percakapan manusia tidak boleh disamakan dengan sifat Baqa'-nya Allah. Konsep Baqa' terbagi ke dalam tiga tingkatan:
| Tingkatan Baqa' | Pengertian | Contoh Nyata | Status Hukum Akal |
|---|---|---|---|
| Baqa' Zamani | Kekal atau bertahan lama karena faktor rentang masa/zaman yang panjang. | Batu karang di lautan, piramida kuno, atau daratan bumi yang bertahan ribuan tahun. | Tetap Fana' (Binasah) |
| Baqa' Nisbi (Idhofi) | Kekal secara perbandingan relatif antara dua benda materi. | Emas atau logam mulia lebih awet dan tahan lama dibandingkan kayu atau kertas. | Tetap Fana' (Binasah) |
| Baqa' Haqiqi | Kekal abadi secara mutlak tanpa akhir dan tidak terikat dimensi waktu. | Wujud Dzat dan Sifat Allah Subhanahu wa Ta'ala. | Wajib Abadi (Hakiki) |
Dari perbandingan di atas, terlihat jelas bahwa Baqa' Zamani dan Baqa' Nisbi hanyalah keawetan semu milik makhluk yang suatu saat pasti akan hancur. Satu-satunya Dzat yang menyandang Baqa' Haqiqi hanyalah Allah SWT.
Adapun kekalnya Surga, Neraka, 'Arsy, dan Ruh di akhirat kelak, statusnya disebut sebagai Baqa' 'Aridhi (kekal karena terus-menerus dikekalkan oleh Allah), bukan karena mereka memiliki kekuatan abadi sendiri.
4. Dalil Naqli (Al-Qur'an) Sifat Baqa'
Kepastian bahwa seluruh semesta akan punah dan hanya Dzat Allah yang abadi ditegaskan secara terang benderang di dalam Al-Qur'an Surah Ar-Rahman ayat 26–27:
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ ﴿٢٦﴾ وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ ﴿٢٧﴾
"Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah (Dzat) Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan."
(QS. Ar-Rahman [55]: 26–27)
Penegasan ini kembali dikuatkan di dalam Surah Al-Qashas ayat 88:
كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ ۚ لَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
"...Segala sesuatu pasti binasa, kecuali Dzat-Nya. Segala keputusan menjadi wewenang-Nya, dan hanya kepada-Nya kamu dikembalikan."
(QS. Al-Qashas [28]: 88)
5. Dalil Aqli Logika: Korelasi Kemustahilan Binasa Bagi Dzat yang Qidam
Bagaimanakah nalar akal membuktikan bahwa Allah pasti bersifat Baqa'? Syekh Ibrahim Al-Bajuri menyajikan rangkaian logika (dalil aqli) yang sangat ringkas dan kokoh:
"Seandainya mungkin bagi Allah untuk binasa, maka tidak mungkin Dia bersifat Qidam. Karena sesuatu yang mungkin binasa itu statusnya adalah mungkin untuk ada. Dan jika ia mungkin untuk ada, maka mungkin juga untuk tidak ada (yakni berstatus baharu/hadits). Padahal sifat Qidam itu menafikan kebaharuan. Sedangkan sesuatu yang baharu pasti akan binasa, dan sesuatu yang Qidam mustahil binasa."
Alur logika ini dapat kita urai dalam 3 langkah sederhana:
- Kaidah Logika Dasar: Sesuatu yang bisa rusak atau binasa, itu tanda bahwa keberadaannya tidak mutlak (bersifat mungkin/mumkinat). Contohnya: meja kayu bisa hancur karena dulunya memang tidak ada lalu dibuat tukang kayu.
- Kontradiksi: Jika Allah diandaikan bisa binasa, berarti wujud Allah adalah wujud baru yang diciptakan. Hal ini bertentangan dengan dalil sifat kedua di mana kita telah menetapkan bahwa Allah wajib bersifat Qidam (Maha Terdahulu tanpa awal).
- Kesimpulan Pasti: Karena mustahil bagi Allah untuk menjadi makhluk baru, maka secara mutlak mustahil pula bagi Allah untuk binasa. Dengan demikian, akal sehat mewajibkan Allah bersifat Al-Baqa'.
6. Sifat Mustahil Lawan dari Baqa': Al-Fana'
Lawan dari sifat Al-Baqa' adalah Al-Fana' (الْفَنَاءُ), yang artinya binasa, lenyap, musnah, atau memiliki akhir.
Menisbatkan sifat fana' kepada Allah adalah perkara yang Mustahil 'Aqli. Seandainya Allah bisa binasa, maka gugurlah sifat ketuhanan-Nya.
Jika Tuhan bisa mati, lalu siapakah yang akan mengurus alam semesta, membalas amal manusia, dan menegakkan keadilan di hari kiamat? Maka akal dan fitrah manusia secara mutlak menolak sifat fana' bagi Sang Pencipta.
7. Hikmah dan Buah Spiritual Mengimani Sifat Baqa'
Meresapi makna sifat Baqa' melahirkan perubahan cara pandang yang mendalam dalam meniti kehidupan di dunia:
- Tidak Tertipu oleh Gemerlap Dunia yang Fana: Sadar bahwa harta, jabatan, kecantikan, dan pujian manusia akan binasa. Seorang mukmin tidak akan menjual agamanya demi mengejar kesenangan sesaat yang lekas hilang.
- Hanya Bersandar kepada Dzat yang Tidak Pernah Mati: Menaruh rasa cinta dan harapan tertinggi hanya kepada Allah. Manusia yang kita cintai bisa pergi atau mengecewakan, namun Allah senantiasa ada mendengarkan rintihan hamba-Nya.
- Semangat Menabung Amal: Termotivasi untuk mengubah hal-hal yang fana (seperti harta dan waktu) menjadi pahala yang abadi di akhirat melalui sedekah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang shalih.
Ruang Renung: Tanya Jawab Ringan Seputar Sifat Baqa'
Merenungi sifat kekekalan Allah sering kali memantik dialog batin di dalam diri kita. Mari kita luruskan beberapa hal yang kerap mengganjal di hati dengan bahasa yang lebih santai dan mengalir:
1. Mengapa memahami sifat Baqa' ini bisa mengubah total cara kita memandang hidup dan usia?
Sadar atau tidak, banyak dari kita yang diam-diam dihantui rasa cemas: takut kehilangan harta, gelisah saat fisik mulai menua, atau khawatir berlebihan memikirkan masa depan.
Bagi orang yang hanya memandang dunia sebatas materi, hidup ini seolah panggung segalanya, sehingga mereka mengejar dunia hingga kehabisan napas dan rapuh saat kehilangannya.
Namun, ketika sifat Baqa' meresap ke dalam dada, cara pandang kita berubah total. Kita tersadar bahwa dunia ini tak ubahnya 'tempat singgah' sejenak.
Segala suka dan duka di bumi ini memiliki tanggal kedaluwarsa. Ketenangan batin pun hadir, karena kita tahu bahwa kita sedang melangkah pulang menuju pelukan rahmat Dzat Yang Maha Kekal.
2. Bagaimana cara paling mudah memahami bahwa Dzat yang tidak berawal (Qidam) sudah pasti tidak akan berakhir (Baqa')?
Mari kita gunakan perumpamaan sederhana. Sebuah meja kayu atau ponsel canggih bisa rusak dan hancur karena dulunya mereka 'dirakit' dari berbagai komponen. Ada proses menyatukan bahan, maka kelak pasti ada proses terurai dan lapuk.
Nah, Dzat Allah bukanlah benda materi, tidak tersusun dari organ atau partikel, dan tidak pernah 'dibuat' oleh siapapun karena wujud-Nya tanpa permulaan (Qidam).
Karena tidak ada proses perakitan, maka tidak ada faktor apa pun di alam semesta yang bisa mengurai atau memusnahkan Dzat-Nya. Logikanya sangat jernih: apa yang tidak pernah bermula, mustahil memiliki titik akhir.
3. Di tengah kesibukan sehari-hari, bagaimana melatih hati agar tidak terlalu 'cinta mati' pada hal-hal yang fana?
Kuncinya ada pada jeda kesadaran kecil di setiap aktivitas kita. Saat kita membeli barang baru yang kita sukai, meraih prestasi kerja, atau mengagumi keindahan dunia, nikmatilah sewajarnya sebagai bentuk syukur, lalu bisikkan lembut ke dalam hati: "Semua ini hanya titipan yang lekas usang. Hanya bekal untuk Allah yang akan abadi menemaniku."
Selain itu, basahi lisan dengan zikir yang menenangkan jiwa: "Yaa Hayyu Yaa Qayyum" (Wahai Dzat Yang Maha Hidup Kekal dan Maha Mandiri Mengurus Semesta). Latihan batin yang sederhana ini akan membuat hati kita tidak mudah remuk saat dunia mengecewakan kita, sebab sandaran utama kita tidak akan pernah mati.
Penutup
Mempelajari sifat Al-Baqa' melalui panduan kitab Tijan Ad-Darari karya Syekh Ibrahim Al-Bajuri menyadarkan kita akan hakikat diri sebagai makhluk yang lemah dan fana di hadapan Sang Khaliq Yang Maha Abadi.
Dunia adalah tempat menanam kebajikan yang berumur pendek, sedangkan akhirat adalah negeri keabadian yang abadi. Betapa beruntungnya jiwa-jiwa yang menambatkan hatinya kepada Dzat Yang Maha Kekal.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa menerangi hati kita dengan cahaya tauhid yang murni, melimpahkan keikhlasan dalam setiap amal, dan mempertemukan kita dengan ridha dan surga-Nya yang kekal abadi. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.
