Beranda / Hikayat / Jejak Langkah Sayyidina Ali dan Rahasia di Balik Bacaan Sami’allahu Liman Hamidah

Jejak Langkah Sayyidina Ali dan Rahasia di Balik Bacaan Sami’allahu Liman Hamidah

Kala fajar masih menyelimuti sudut-sudut kota Madinah, keheningan lorong tanah dipadukan dengan hembusan angin pagi yang dingin menjadi saksi sebuah adab agung yang menggetarkan penghuni langit.

Di tengah kegelapan subuh itu, Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa menuju Masjid Nabawi demi mengejar shalat Subuh berjamaah bersama baginda Rasulullah ﷺ.

Kisah menakjubkan ini kami petik dari penyampaian guru kami di majlis ilmu saat mengkaji fiqih shalat berjamaah, khususnya menyingkap rahasia hikmah di balik bacaan "Sami'allahu liman hamidah" saat bangkit dari ruku'—yang pada masa awal pensyariatan shalat menggunakan takbir intiqal "Allahu Akbar".

Adapun riwayat lengkap hikayat ini disarikan dari untaian mutiara Hadits Ketiga dalam Kitab Al-Mawa'idz Al-'Ushfuriyyah karya Syaikh Muhammad bin Abu Bakar Al-'Ushfuri.

Kisah Sayyidina Ali dan Rahasia Bacaan Samiallahu Liman Hamidah


1. Langkah Lambat di Lorong Madinah

Diceritakan bahwa pada suatu pagi, Sayyidina Ali berjalan tergesa-gesa melintasi gang-gang sempit Madinah agar tidak tertinggal shalat Subuh berjamaah di belakang Rasulullah ﷺ.

Namun di tengah perjalanan, pandangan Sayyidina Ali tertumbuk pada sosok seorang kakek tua yang sedang berjalan tepat di depannya. Tubuh sang kakek telah bungkuk dimakan usia, kulitnya berkerut, dan langkah kakinya berayun perlahan penuh ketenangan serta kewibawaan.

Sayyidina Ali yang bertubuh muda dan gesit tentu bisa dengan sangat mudah menyalip atau mendahului langkah kakek tersebut. Akan tetapi, di dalam dada menantu Rasulullah ﷺ ini bersemayam adab nubuwah yang begitu mendalam.

Beliau teringat betapa Allah SWT sangat memuliakan hamba-hamba-Nya yang telah beruban. Sebagaimana sebuah hadits qudsi yang diriwayatkan dari Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu yang diangkat dalam kitab ini:

"Sesungguhnya Allah Ta'ala memandang kepada wajah orang yang telah tua di waktu pagi dan petang seraya berfirman: 'Wahai hamba-Ku, sungguh usiamu telah menua, kulitmu telah berkerut, tulangmu telah rapuh, ajalmu telah dekat, dan telah tiba saat kepulanganmu kepada-Ku, maka malulah kepada-Ku, karena sesungguhnya Aku merasa malu kepada ubanmu untuk mengazabmu di dalam neraka.'"

Terlepas dari adanya perbedaan pandangan (ikhtilaf) di kalangan ulama mengenai derajat sanad hadits di atas. 

Penting untuk dipahami bahwa dalam konteks ini kita tidak sedang menetapkan suatu hukum syariat (ahkam), melainkan memetik pelajaran dalam ranah keutamaan amal (fadha'ilul a'mal). Tujuannya adalah menghadirkan motivasi (targhib) dan nasihat penyejuk jiwa.

Para ulama muta'akhirin bersepakat bahwa penyampaian riwayat semacam ini sangat dianjurkan untuk melembutkan hati, mengingatkan kita akan hakikat umur yang kian menyusut, serta mendorong manusia memperbanyak bekal amal shaleh sebelum ajal menjemput.

Didorong oleh rasa ta'dzim dan penghormatan yang tulus kepada uban sang kakek, Sayyidina Ali memilih memperlambat langkah kakinya. 

Beliau berjalan setia di belakang kakek tua itu dengan penuh kesabaran tanpa berani mendahuluinya selangkah pun, hingga waktu subuh kian menipis dan fajar kian membentang di ufuk timur.

2. Kejutan di Ambang Pintu Masjid dan Sentuhan Sayap Jibril

Iring-iringan langkah lambat itu akhirnya tiba di pelataran Masjid Nabawi. Namun di luar dugaan Sayyidina Ali, kakek renta yang dihormatinya sedemikian rupa itu tidak berbelok masuk ke dalam masjid, melainkan terus melangkah melewati pintunya. 

Seketika itu barulah Sayyidina Ali menyadari bahwa kakek tua berwibawa tersebut adalah seorang pemeluk agama Nasrani.

Tanpa membuang waktu sedetik pun, Sayyidina Ali segera bergegas merapatkan shaf ke dalam masjid. Dada beliau berdegup kencang karena khawatir telah kehilangan rakaat pertama.

Namun, pemandangan luar biasa menyambut pandangan matanya: beliau mendapati Rasulullah ﷺ ternyata masih berada dalam posisi ruku' yang sangat panjang, panjangnya diperkirakan menyamai durasi dua kali ruku' biasa.

Melihat karunia agung tersebut, hati Sayyidina Ali spontan membisikkan puji syukur: "Alhamdulillah." Beliau segera bertakbiratul ihram lalu membungkukkan badan melakukan ruku' bersama Rasulullah ﷺ hingga tuma'ninah sempurna terpenuhi.

Dalam kaidah fiqih shalat berjamaah, batas akhir seorang makmum masbuk dinyatakan sah mendapatkan satu rakaat adalah apabila ia berhasil mendapati ruku' bersama imam dalam keadaan tuma'ninah sebelum imam bangkit menuju i'tidal.

3. Titik Balik Sejarah: Dari Takbir Intiqal Menjadi Tahmid I'tidal

Melalui hikayat ini, guru kami menjelaskan bahwa pada masa-masa awal pensyariatan shalat, gerakan bangkit dari ruku' menuju posisi berdiri (i'tidal) diiringi dengan bacaan takbir intiqal (mengucapkan Allahu Akbar). Namun, pada shalat Subuh yang bersejarah itu, langit memberikan ketetapan yang berbeda.

Begitu Sayyidina Ali melafalkan tahmid syukurnya di dalam ruku', Malaikat Jibril 'alaihissalam turun membawa wahyu perintah dari Allah SWT. Saat Rasulullah ﷺ mengangkat tubuh mulianya dari ruku', lisan suci beliau tidak lagi melafalkan takbir biasa, melainkan melantunkan kalimat firman yang diajarkan oleh Malaikat Jibril:

سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ

"Sami’allahu liman hamidah" (Allah Maha Mendengar siapa saja yang memuji-Nya).

Kalimat agung ini merupakan konfirmasi langsung dari Arsy bahwa puji syukur (Alhamdulillah) yang terucap tulus dari Sayyidina Ali saat berhasil mendapati ruku' telah didengar, diterima, dan dimuliakan oleh Allah SWT.

Mendengar kalimat yang diucapkan oleh imam tersebut, para sahabat di belakang beliau serentak menyambutnya dengan seruan doa yang menyempurnakan i'tidal hingga akhir zaman: "Rabbana lakal hamd..."

4. Dialog Seusai Salam dan Rahasia Dua Sayap Malaikat

Setelah untaian salam mengakhiri shalat Subuh, rasa penasaran menyelimuti benak para sahabat dan Sayyidina Ali sendiri. Dengan penuh takzim, salah seorang sahabat memberanikan diri bertanya kepada baginda Nabi ﷺ:

"Wahai Rasulullah, mengapa engkau memperpanjang ruku' pada shalat kali ini dengan durasi yang belum pernah engkau lakukan sebelumnya?"

Rasulullah ﷺ tersenyum teduh lalu menyingkap rahasia langit yang baru saja terjadi:

"Ketika aku sedang ruku' dan membaca wirid 'Subhana Rabbiyal 'Adzim', lalu aku hendak mengangkat kepalaku untuk berdiri, tiba-tiba Malaikat Jibril 'alaihissalam datang meletakkan sayapnya di atas punggungku. Ia menahanku dalam posisi ruku' begitu lama. Tatkala ia mengangkat sayapnya, barulah aku mampu mengangkat kepalaku."

Para sahabat pun tercengang seraya bertanya mengapa Malaikat Jibril bertindak sedemikian rupa. Rasulullah ﷺ melanjutkan sabdanya:

"Jibril berkata kepadaku: 'Wahai Muhammad, sesungguhnya Ali tadi sedang bergegas menuju masjid, lalu di tengah jalan ia menjumpai seorang kakek tua pemeluk Nasrani. Ali tidak mengetahui bahwa kakek itu beragama Nasrani, namun ia tetap memuliakannya semata-mata karena menghormati ubannya dan tidak mau mendahului langkahnya. Maka Allah Ta'ala memerintahkanku untuk menahan punggungmu dalam keadaan ruku' agar Ali tidak tertinggal shalat Subuh berjamaah.'"

Bahkan kitab Al-Mawa'idz Al-'Ushfuriyyah menutup hikayat ini dengan sebuah fakta yang jauh lebih menggetarkan jiwa.

Malaikat Jibril menyampaikan bahwa Allah SWT tidak hanya memerintahkan dirinya menahan punggung Nabi, melainkan juga mengutus Malaikat Mikail 'alaihissalam untuk membentangkan sayapnya menahan laju peredaran matahari agar waktu Subuh tidak habis, semata-mata demi memuliakan adab seorang pemuda beriman kepada orang yang telah renta.

Mutiara Hikmah untuk Jiwa

Kisah nyata penuh keajaiban ini menorehkan beberapa pelajaran berharga yang patut kita renungkan bersama dalam meniti kehidupan sehari-hari:

  • Kemuliaan Akhlak dan Kemanusiaan: Sayyidina Ali memuliakan sang kakek murni karena nilai kemanusiaan dan kehormatan usia senjanya, tanpa sempat menanyakan suku, ras, ataupun agamanya. Islam mengajarkan bahwa adab kepada orang tua adalah bahasa universal yang sangat dicintai oleh Allah SWT.
  • Ganjaran Kontan bagi Penjaga Adab: Niat tulus Sayyidina Ali yang rela mengorbankan egonya demi menjaga perasaan orang lain tidak membuatnya merugi. Justru Allah menggerakkan dua malaikat agung (Jibril dan Mikail) serta menahan ruku' Nabi agar shalat berjamaah sang sahabat tetap utuh sempurna.
  • Rasa Syukur yang Abadi: Setiap kali kita bangkit dari ruku' dalam setiap rakaat shalat dan melafalkan Sami’allahu liman hamidah, sesungguhnya kita sedang menghidupkan kembali memori agung tentang betapa Allah selalu mendengar setiap desah syukur dan menjaga hamba-hamba-Nya yang berakhlak mulia.

Semoga kisah hikayat ini melembutkan hati kita untuk senantiasa mendahulukan adab, memuliakan para orang tua di sekitar kita, dan menjaga kekhusyukan ruku' di hadapan Sang Pencipta. Wallahu a'lam bish-shawab.