Rahasia Mimpi di Syam: Kisah Masuk Islam Sayyidina Abu Bakar
Ada sebuah rahasia batin yang terkunci rapat di balik dada Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu sebelum cahaya Islam menyinari kota Makkah.
Suatu malam di tengah perjalanan kafilah dagangnya, langit seolah runtuh membawa dua benda paling agung di jagat raya, matahari dan bulan turun tepat ke pangkuannya.
Beliau meraih kedua poros cahaya semesta itu dengan kedua belah tangannya, mendekapnya erat ke dada, lalu membungkus keduanya dengan jubah yang beliau kenakan.
Penglihatan luar biasa ini bukan sekadar igauan tidur di tengah dinginnya padang pasir, melainkan isyarat langit yang mengantarkannya pada sebuah pertemuan sunyi dengan seorang rahib di negeri Syam.
Sebuah rahasia yang tak pernah ia ceritakan kepada satu jiwa pun di Makkah, hingga rahasia itu diungkap langsung oleh lisan yang paling jujur di muka bumi.
Mimpi Ganjil di Tengah Kafilah Dagang
Di dalam kitab klasik yang sarat mutiara hikmah, Al-Mawa'idzul Ushfuriyyah karya Syekh Muhammad bin Abu Bakar Al-Ushfuri, kisah ini diabadikan secara khusus pada penjelasan Hadits Keenam.
Hadits tersebut merupakan riwayat dari Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq mengenai keagungan hari Jumat sebagai pelebur dosa serta pelipatgandaan pahala langkah menuju tempat ibadah.
Pada masa jahiliyah, Abu Bakar dikenal luas sebagai saudagar kain yang terpandang, jujur, dan berwawasan tajam.
Dalam salah satu ekspedisi niaganya melintasi jalur utara menuju negeri Syam, pengalaman ruhani lewat mimpi mendekap matahari dan bulan itu mengguncang ketenangan hatinya.
Seperti kaum Quraisy kebanyakan Sayyidina Abu Bakar pun pada waktu masih percaya terhadap ramalan, sehingga ketika beliau bermimpi yang tak biasa, maka beliaupun mendatangi seorang pendeta untuk menanyakan tafsir mimpinya tersebut.
Abu Bakar segera mencari seorang pendeta Nasrani terkemuka di Syam yang termasyhur ahli membaca makna mimpi serta menguasai isi kitab-kitab suci terdahulu.
Tafsir Sang Rahib dan Rahasia yang Disembunyikan
Setibanya di hadapan sang pendeta, Abu Bakar menceritakan apa yang disaksikannya secara terperinci.
Sang pendeta menyimak setiap kata dengan saksama, lalu menatap tamunya dengan pandangan menyelidik sebelum mengajukan beberapa pertanyaan penting.
"Dari manakah asalmu?" tanya pendeta itu.
"Aku berasal dari Makkah," jawab Abu Bakar.
"Dari kabilah apa?" tanyanya kembali.
"Dari kabilah Taim."
"Dan apa pekerjaanmu sehari-hari?"
"Berdagang."
Mendengar jawaban tersebut, raut wajah sang pendeta mendadak berubah haru. Ada binar takjub yang tak mampu disembunyikannya lagi.
Dengan suara bergetar, ia menyingkap tabir rahasia yang terkandung di dalam mimpi tersebut:
"Akan muncul pada zamanmu ini seorang lelaki dari Bani Hasyim yang dipanggil dengan nama Muhammad Al-Amin. Dialah Nabi akhir zaman. Jikalau bukan karena dia, niscaya Allah tidak akan menciptakan langit dan bumi serta seluruh isinya, tidak akan menciptakan Adam, dan tidak pula mengutus para nabi dan rasul. Dialah penghulu para nabi dan penutup seluruh risalah."
Sang rahib kemudian melanjutkan tafsir mimpi yang membuat dada Abu Bakar berdesir hebat:
"Adapun engkau, engkau akan memeluk agamanya, menjadi wazir (menteri pendamping) baginya selama hidupnya, dan kelak menjadi khalifah penggantinya setelah kepergiannya. Itulah makna engkau mendekap matahari dan bulan di pangkuanmu serta menyelimuti keduanya dengan jubahmu."
Tak berhenti di situ, sang pendeta membocorkan sebuah rahasia besar yang selama ini ia sembunyikan dari kaumnya:
"Sungguh, aku telah menemukan sifat dan ciri-ciri kenabiannya tertulis nyata di dalam Taurat, Injil, dan Zabur. Dan ketahuilah, aku sendiri sebenarnya telah beriman kepadanya, namun aku menyembunyikan keimananku ini karena takut akan ancaman kaum Nasrani."
Gejolak Cinta dan Kerinduan di Kota Makkah
Mendengar penuturan sang rahib tentang keagungan akhlak dan kemuliaan Nabi yang dijanjikan itu, hati Abu Bakar melunak seketika. Benih-benih kerinduan yang amat dalam mulai bersemi dan membakar jiwanya.
Beliau tak lagi memikirkan keuntungan perniagaannya di Syam; pikirannya melayang jauh kembali ke kota Makkah, ingin segera menjumpai sang pemilik nama mulia tersebut.
Begitu kafilah dagangnya menjejakkan kaki kembali di Makkah, Abu Bakar langsung mencari sosok Muhammad bin Abdullah ﷺ. Begitu tatapan keduanya bertemu, rasa cinta di dalam dada Abu Bakar kian tak terbendung.
Syekh Al-Ushfuri menggambarkan bahwa cinta Abu Bakar kepada Baginda Nabi begitu mendalam, sampai-sampai beliau tidak sanggup bersabar barang sejenak pun tanpa memandang wajah teduh Rasulullah ﷺ.
Setiap hari, Abu Bakar mendatangi kediaman Rasulullah ﷺ, duduk berlama-lama di sisi beliau, dan menatapnya dengan penuh takzim.
Namun, waktu terus bergulir tanpa sepatah kata pun terucap dari lisannya untuk menyatakan keislaman secara terbuka. Beliau memilih menyimpan rahasia dialognya dengan rahib Syam di kedalaman hatinya yang paling sunyi.
Ketika Tabir Rahasia Disingkapkan
Hingga pada suatu hari, setelah masa perjumpaan itu berlangsung cukup lama, Rasulullah ﷺ menatap sahabat karibnya itu dengan pandangan penuh kasih sayang lalu bersabda:
"Wahai Abu Bakar, setiap hari engkau datang kepadaku dan duduk bersamaku, mengapa engkau belum juga berserah diri memeluk Islam?!"
Mendengar teguran lembut tersebut, Abu Bakar menjawab dengan santun demi memantapkan keyakinan hatinya:
"Jika engkau benar seorang Nabi, tentu engkau harus memiliki mukjizat sebagai buktinya."
Rasulullah ﷺ tersenyum tenang, lalu mengucapkan sebaris kalimat wahyu yang seketika meluluhkan seluruh persendian Abu Bakar:
"Bukankah sudah cukup bagimu mukjizat yang engkau lihat dalam mimpimu di negeri Syam, yang telah ditafsirkan oleh seorang pendeta, di mana pendeta itu mengabarkan kepadamu tentang keislaman dirinya?!"
Mendengar rahasia paling tersembunyi dalam hidupnya disebut secara gamblang oleh Rasulullah ﷺ, padahal tak pernah ada seorang pun di muka bumi yang diberitahunya perihal mimpi dan bisikan rahib di Syam.
Tubuh Abu Bakar bergetar hebat. Tidak ada lagi keraguan yang tersisa. Detik itu juga, dengan air mata keharuan, Abu Bakar mengikrarkan sumpah keimanannya:
"Asyhadu alla ilaha illallah, wa annaka Rasulullah!" (Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan sesungguhnya engkau adalah utusan Allah).
Sayyidina Abu Bakar pun memeluk Islam dengan keimanan yang kokoh, murni, dan penuh kepasrahan yang sempurna.
Mutiara Hikmah dari Hadits Keenam Kitab Al-Ushfuri
Kisah menakjubkan yang dirangkai Syekh Muhammad bin Abu Bakar Al-Ushfuri ini bukan sekadar catatan riwayat pelengkap.
Kisah ini diletakkan berdampingan dengan Hadits Keenam yang menguraikan bagaimana wudhu, mandi, serta setiap derap langkah kaki menuju shalat Jumat menjadi kafarat (pelebur) dosa dan bernilai ibadah puluhan hingga ratusan tahun.
Penyandingan antara riwayat mimpi Sayyidina Abu Bakar dan keutamaan hari Jumat ini menyiratkan pesan batin yang sangat dalam.
Di dalam ajaran Islam, kemuliaan tidak pernah hadir dari ruang hampa, melainkan bertumpu pada kesucian niat dan kesiapan bejana hati dalam menyambut anugerah Ilahi.
Sayyidina Abu Bakar disiapkan hatinya melalui mimpi dan gelora cinta yang tulus, lalu disucikan langkahnya sebagai pengiring setia pembawa risalah.
Dari hikayat ini kita bisa memahami, bahwa keimanan Sayyidina Abu Bakar tidak secara tiba-tiba, tapi melalui proses perenungan dan pergolakan batin sampai akhirnya beliau memantapkan hati memeluk Islam
Kisah ini menitipkan pelajaran berharga bahwa kebenaran sejati selalu mengenali jiwa yang bersih.
Ketika seseorang berani melangkah dengan ketulusan nurani, seperti langkah Abu Bakar memandang Rasulullah ﷺ atau langkah seorang mukmin menuju panggilan ibadah, maka sekat-sekat keraguan akan runtuh dengan sendirinya, berganti menjadi ketenangan iman yang menghidupkan jiwa.