Rahasia Munajat Usia Senja Guru Imam Al-Maturidi
Setiap helai uban yang tumbuh di kepala manusia sering kali dipandang sekadar sebagai tanda memudarnya kegagahan fisik dan kian merapatnya garis akhir kehidupan.
Di balik rapuhnya tulang dan kerutan kulit yang kian nyata, tersimpan sebentuk kelembutan Ilahi yang jarang disadari oleh hati yang sibuk mengejar dunia.
Ada rasa malu yang teramat mulia dari Sang Pencipta kepada hamba-Nya yang telah memutih rambutnya dalam ketaatan, sebuah rahasia kasih sayang yang terekam indah dalam lembaran hikmah para ulama salaf terdahulu.
Melalui warisan berharga dalam kitab Al-Mawa’izh Al-‘Ushfuriyyah karya Syekh Muhammad bin Abu Bakar Al-Ushfuri, kita diajak menyelami sebuah peristiwa hening di pembaringan seorang ulama sepuh yang tengah menanti saat-saat kepulangannya menuju keabadian.
Sentuhan Hadits Qudsi: Kasih Sayang Allah kepada Hamba yang Menua
Setelah sebelumnya menceritakan tentang Jejak Langkah Sayyidina Ali dan Rahasia di Balik Bacaan Sami’allahu Liman Hamidah berdasarkan hadits ke tiga dalam kitab Al-Mawaidz Al-Usfuriyah, dimana Rasulullah ﷺ mengabarkan bagaimana pandangan Allah Ta’ala terhadap hamba-hamba-Nya yang telah menginjak usia senja:
إِنَّ اللهَ تَعَالَى يَنْظُرُ إِلَى وَجْهِ الشَّيْخِ صَبَاحًا وَمَسَاءً وَيَقُوْلُ: يَا عَبْدِيْ قَدْ كَبِرَ سِنُّكَ، وَرَقَّ جِلْدُكَ، وَدَقَّ عَظْمُكَ، وَاقْتَرَبَ أَجَلُكَ، وَحَانَ قُدُوْمُكَ إِلَيَّ، فَاسْتَحْيِ مِنِّي، فَأَنَا أَسْتَحْيِ مِنْ شَيْبَتِكَ أَنْ أُعَذِّبَكَ فِي النَّارِ.
"Sesungguhnya Allah Ta'ala memandang kepada wajah orang yang telah tua di waktu pagi dan petang seraya berfirman: 'Wahai hamba-Ku, sungguh usiamu telah menua, kulitmu telah berkerut, tulangmu telah rapuh, ajalmu telah dekat, dan telah tiba saat kepulanganmu kepada-Ku, maka malulah kepada-Ku, karena sesungguhnya Aku merasa malu kepada ubanmu untuk mengazabmu di dalam neraka.'"
Ungkapan Ilahi ini menggambarkan betapa luasnya tirai kemurahan Allah. Di saat manusia mungkin mengabaikan mereka yang telah lemah fisiknya, Allah justru menatap wajah hamba-Nya di setiap pagi dan petang dengan pandangan rahmat.
Rasa malu yang disandarkan kepada Allah adalah bentuk kedermawanan mutlak, bahwa kemuliaan-Nya mendahului murka-Nya bagi orang-orang yang senantiasa menjaga tauhid hingga akhir hayat.
Perintah Tak Biasa di Ujung Usia Delapan Puluh Tahun
Hubungan batin antara hadits qudsi tersebut dengan pengamalan nyata para kekasih Allah tercermin dalam sebuah hikayat berharga yang melibatkan peletak dasar madzhab akidah Ahlussunnah wal Jama'ah, yakni Imam Abu Manshur Al-Maturidi rahimahullah.
Dikisahkan, ketika guru dari Imam Abu Manshur Al-Maturidi telah mencapai usia delapan puluh tahun, kondisi fisiknya mulai melemah dan beliau jatuh sakit. Menyadari bahwa ajalnya kian mendekat, sang guru memanggil muridnya, Abu Manshur, dan menyampaikan sebuah wasiat yang terdengar sangat tidak biasa pada masa itu:
فَأَمَرَ أَبَا مَنْصُوْرٍ أَنْ يَطْلُبَ عَبْدًا بِمِثْلِهِ سِنًّا وَيَشْتَرِيَهُ وَيُعْتِقَهُ عَنْهُ
Beliau memerintahkan Abu Manshur untuk berkeliling mencari seorang budak belian yang usianya sebaya dengan beliau, yakni berusia delapan puluh tahun, lalu membelinya untuk segera dimerdekakan atas nama sang guru.
Abu Manshur pun bergegas menunaikan amanah gurunya. Beliau menyusuri pasar-pasar dan perkumpulan para pemilik budak, mencari sosok sahaya yang telah berumur senja. Namun, pencarian tersebut menemui jalan buntu. Tak seorang pun menemukan keberadaan budak berusia delapan puluh tahun di pasar perbudakan.
Orang-orang di sekitar pasar pun merasa heran dan berkata kepada Abu Manshur:
"Bagaimana mungkin engkau bisa menemukan budak yang telah berusia delapan puluh tahun namun masih berstatus sebagai budak dan belum dimerdekakan oleh tuannya?"
Mendengar kenyataan itu, Abu Manshur kembali kepada sang guru dan mengabarkan apa yang baru saja dikatakan oleh khalayak ramai.
Meletakkan Kepala di Atas Tanah: Logika Cinta Seorang Hamba
Begitu mendengar kabar dari muridnya bahwa tidak ada satu pun tuan di kalangan manusia yang tega membiarkan sahayanya tetap terbelenggu perbudakan saat usianya telah mencapai delapan puluh tahun, hati sang guru bergetar hebat.
Beliau tidak mengeluh atas kegagalan pencarian itu. Sebaliknya, pemahaman tauhid beliau yang mendalam menangkap sebuah pelajaran makrifat yang luar biasa.
Sang guru seketika turun dari tempat pembaringannya, merebahkan keningnya, dan meletakkan kepalanya langsung di atas tanah yang dingin sebagai bentuk kerendahan diri yang puncak di hadapan Sang Khaliq.
Dalam sujud kepasrahan itu, beliau melantunkan munajat yang amat menggetarkan langit:
إِلَهِيْ، إِنَّ الْمَخْلُوْقَ لَا يَحْتَمِلُ كَرَمُهُ إِذَا بَلَغَ عَبْدُهُ ثَمَانِيْنَ سَنَةً بِأَنْ يَبْقَى عَلَى الرِّقِّ بَلْ يُعْتِقُهُ، فَأَنَا بَلَغْتُ ثَمَانِيْنَ سَنَةً فَكَيْفَ لَا تُعْتِقُنِيْ مِنَ النَّارِ وَأَنْتَ كَرِيْمٌ جَوَادٌ عَظِيْمٌ غَفُوْرٌ شَكُوْرٌ؟
"Wahai Tuhanku... Sesungguhnya makhluk saja yang serba terbatas tidak sampai hati kedermawanannya membiarkan hambanya yang telah mencapai usia delapan puluh tahun tetap dalam belenggu perbudakan, melainkan pasti akan memerdekakannya. Sedangkan aku adalah hamba-Mu yang telah mencapai usia delapan puluh tahun, maka bagaimana mungkin Engkau tidak memerdekakanku dari api neraka, padahal Engkau adalah Dzat Yang Maha Mulia, Maha Dermawan, Maha Agung, Maha Pengampun, lagi Maha Menghargai kebaikan hamba-Nya?"
Sebuah logika ketundukan yang begitu indah. Beliau tidak menyombongkan tumpukan amal shalatnya, tidak membanggakan puluhan tahun mengajarkan ilmu agama, dan tidak merasa berhak atas surga karena ilmunya.
Beliau mengetuk pintu rahmat Allah melalui pengakuan kelemahan diri dan persaksian atas sifat kemurahan Allah yang tiada bertepi.
Kitab Al-Mawa’izh Al-‘Ushfuriyyah menutup hikayat ini dengan kalimat yang menentramkan jiwa:
فَأَعْتَقَهُ اللهُ تَعَالَى بِحُسْنِ مُنَاجَاتِهِ
"Maka Allah Ta'ala pun memerdekakan beliau (dari siksa neraka) berkat keindahan dan ketulusan munajatnya."
Butiran Pelajaran bagi Perjalanan Jiwa
Kisah hening antara guru Imam Al-Maturidi dan muridnya ini menghadirkan ruang perenungan yang hangat bagi kita yang tengah melangkah menyusuri lorong-lorong usia:
- Husnudzan kepada Allah Melampaui Ketakutan Diri: Mengingat dosa di masa lampau adalah wujud taubat, namun berprasangka baik (husnudzan) pada sifat pengampun dan kedermawanan Allah saat ajal kian dekat adalah pilar keselamatan batin.
- Kearifan Memahami Makna Uban: Uban dan keriput bukan sekadar tanda penuaan raga, melainkan duta peringatan lembut dari Allah agar hati perlahan melepaskan keterikatan pada gemerlap dunia dan bersiap pulang dengan penuh rasa rindu.
- Kekuatan Kerendahan Hati (Tadzallul): Pintu rahmat Allah terbuka paling lebar bukan ketika seseorang merasa berjasa atas amalnya, melainkan saat ia mampu meletakkan keningnya di atas debu dengan kesadaran penuh bahwa keselamatan dirinya semata-mata bergantung pada belas kasih Sang Maha Pengasih.
Perjalanan hidup pada akhirnya adalah tentang bagaimana kita kembali. Di setiap detik umur yang terus bertambah dan tenaga yang kian berkurang, selalu ada ruang harapan yang terbuka luas.
Selama lidah masih mampu berbisik lirih mengakui kekhilafan dan hati tetap bersandar teguh pada kemurahan Ilahi, kasih sayang Allah akan senantiasa menyambut pulang setiap jiwa yang berserah diri.
