Kedengkian 10 Tokoh Khawarij: Rahasia Ali Membuktikan Keutamaan Ilmu
Kecerdasan sejati seorang hamba bukan diukur dari seberapa banyak perbendaharaan kata yang ia hafalkan di luar kepala, melainkan dari kemampuannya melihat hakikat kebenaran ketika akalnya diuji oleh prasangka dan kedengkian orang lain.
Tatkala Rasulullah ﷺ menegaskan kedudukan sepupu sekaligus menantunya dalam sebuah sabda yang masyhur, "Aku adalah kotanya ilmu dan Ali adalah pintunya," kabar tersebut tidak hanya menyalakan kekaguman di kalangan para sahabat, namun juga memicu bara kecemburuan di hati kelompok yang gemar mencari celah kelemahan.
Melalui lembaran hadits keempat dalam kitab Al-Mawa’izh Al-‘Ushfuriyyah karya Syekh Muhammad bin Abu Bakar Al-Ushfuri, kita diajak menyimak kembali sebuah peristiwa bersejarah ketika kematangan ilmu dan keluhuran adab Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah diuji secara terbuka oleh sepuluh tokoh terkemuka dari kalangan Khawarij.
Kedudukan Menuntut Ilmu: Amalan Para Pahlawan Sejati
Sebelum menuturkan peristiwa dialog tersebut, Syekh Al-Ushfuri mengetengahkan riwayat agung dari jalur Ibrahim, dari 'Alqamah, dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, mengenai betapa mulianya orang yang melangkahkan kaki demi mencari ilmu:
مَنْ تَعَلَّمَ بَابًا مِنَ الْعِلْمِ يَنْتَفِعُ بِهِ فِيْ آخِرَتِهِ وَدُنْيَاهُ أَعْطَاهُ اللهُ خَيْرًا لَهُ مِنْ عُمْرِ الدُّنْيَا سَبْعَةِ آلَافِ سَنَةٍ، صِيَامِ نَهَارِهَا وَقِيَامِ لَيَالِيْهَا، مَقْبُوْلَةً غَيْرَ مَرْدُوْدَةٍ
"Barangsiapa mempelajari satu bab dari ilmu yang bermanfaat baginya untuk urusan akhirat dan dunianya, maka Allah akan memberinya pahala yang lebih baik daripada umur dunia selama tujuh ribu tahun, yang siangnya diisi dengan berpuasa dan malamnya diisi dengan shalat malam, yang semuanya diterima tanpa ada yang tertolak."
Rasulullah ﷺ bahkan menjuluki para penuntut ilmu sebagai pemegang amalan para pahlawan sejati. Sebab, ketika amalan dzikir, shalat, dan puasa menjadi sarana perbaikan diri secara pribadi, ilmu hadir sebagai pelita yang menerangi jalan bagi banyak manusia keluar dari kegelapan kebodohan.
Siasat Sepuluh Tokoh Khawarij Menguji Pintu Ilmu
Mendengar pengakuan Rasulullah ﷺ atas kedalaman ilmu Sayyidina Ali, muncul rasa dengki di benak kelompok Khawarij. Mereka merasa sangsi dan bermusyawarah untuk menguji keabsahan sabda Nabi tersebut secara logis.
Sepuluh orang pembesar mereka berkumpul dan menyusun sebuah siasat:
"Kita akan mendatangi Ali secara bergantian dan menanyakan satu pertanyaan yang sama persis. Jika ia benar-benar pintu ilmu sebagaimana disabdakan Nabi, ia pasti sanggup memberikan jawaban dan argumentasi yang berbeda kepada setiap orang dari kita."
Satu per satu tokoh tersebut masuk menemui Sayyidina Ali, mengajukan pertanyaan tunggal yang sama: "Wahai Ali, manakah yang lebih utama antara ilmu ataukah harta?"
Tanpa ragu sedikit pun, Sayyidina Ali menegaskan bahwa ilmu jauh lebih utama daripada harta, lalu menguraikan sepuluh argumentasi makrifat yang membungkam keraguan mereka.
Sepuluh Sudut Pandang Keutamaan Ilmu atas Harta
Berikut rangkaian jawaban agung yang dipaparkan oleh Sayyidina Ali kepada kesepuluh penanya tersebut secara berurutan:
- Kepada orang pertama, Sayyidina Ali menjelaskan bahwa ilmu adalah pusaka mulia peninggalan para Nabi dan Rasul, sedangkan tumpukan harta hanyalah warisan dari tokoh-tokoh yang celaka seperti Qarun, Syaddad, dan Fir'aun.
- Kepada orang kedua, beliau menuturkan hakikat perlindungan: "Ilmu akan menjagamu dari marabahaya dunia dan akhirat, sedangkan harta justru membuatmu letih karena kamulah yang harus menjaganya siang dan malam."
- Kepada orang ketiga, beliau menguraikan dampak sosial: pemilik harta yang melimpah kerap dikelilingi orang yang iri, dengki, dan berniat jahat, sedangkan pemilik ilmu dikelilingi oleh para sahabat yang tulus menimba kearifan.
- Kepada orang keempat, beliau menunjukkan rahasia pertumbuhan: "Harta jika engkau belanjakan pasti akan berkurang jumlahnya, sedangkan ilmu jika engkau belanjakan (ajarkan kepada sesama) justru akan semakin bertambah dan menajam."
- Kepada orang kelima, beliau menyoroti pandangan masyarakat: pemilik harta sering kali dicap dengan julukan kikir dan tamak jika lalai bersedekah, sementara orang yang berilmu senantiasa dipanggil dengan sebutan terhormat dan dimuliakan.
- Kepada orang keenam, beliau menerangkan sisi keamanan batin: harta benda rentan dicuri atau dirampok orang lain, sedangkan pemahaman ilmu yang terpatri di dalam dada tidak akan pernah bisa dijarah oleh pencuri mana pun.
- Kepada orang ketujuh, beliau mengingatkan hari akhir: "Pemilik harta akan menghadapi hisab yang panjang atas dari mana ia dapatkan dan ke mana ia belanjakan, sedangkan pemilik ilmu yang mengamalkan ilmunya justru berpeluang memberikan syafaat di akhirat."
- Kepada orang kedelapan, beliau membandingkan daya tahan: harta benda akan lapuk, berkarat, dan musnah ditelan masa, sedangkan mutiara ilmu abadi melintasi zaman dan tetap bercahaya kendati pemiliknya telah lama wafat.
- Kepada orang kesembilan, beliau menyentuh aspek rohani: kelekatan pada kekayaan materi berisiko mengeraskan dinding hati dan melalaikan kematian, sementara tetesan ilmu senantiasa menyinari nurani dengan rasa takut kepada Allah.
- Kepada orang kesepuluh, beliau mengupas akar psikologis manusia: kekuasaan harta sering kali menjerumuskan seseorang pada ilusi keangkuhan seolah-olah ia berkuasa atas segalanya, sedangkan ilmu yang hakiki justru menuntun pemiliknya menuju ketundukan dan kepasrahan seorang hamba di hadapan Sang Pencipta.
Keluasan Samudra Hikmah dan Tunduknya Keraguan
Setelah merampungkan sepuluh jawaban yang berlainan tanpa jeda berpikir yang panjang, Sayyidina Ali bin Abi Thalib memandang hadirin seraya berucap dengan penuh ketenangan:
"Dan sekiranya mereka semua terus datang silih berganti menanyakan hal yang sama kepadaku, niscaya akan kujawab dengan argumentasi berbeda lainnya selama aku masih diberikan nafas kehidupan."
Mendengar ketajaman berpikir dan kemurnian pemahaman yang mengalir begitu deras laksana mata air yang tak pernah kering, dinding prasangka di dada sepuluh tokoh Khawarij tersebut runtuh seketika.
Mereka menyadari bahwa apa yang disabdakan oleh Rasulullah ﷺ adalah kebenaran wahyu yang nyata. Rasa permusuhan berganti menjadi ketundukan, hingga akhirnya mereka semua menyatakan keislaman dan bertaubat dari kedengkian di hadapan Sayyidina Ali.
Kisah klasik ini menitipkan pesan yang jernih bagi kehidupan kita hari ini: bahwa mencari nafkah adalah kewajiban hidup, namun menempatkan harta di atas ilmu adalah kekeliruan memandang arah.
Harta hanyalah sarana sementara untuk mengarungi dunia, sedangkan ilmu adalah kompas yang memastikan langkah kita tidak tersesat menuju kampung keabadian.
